Category Archives: 2 – Tales of Fisherman and Jinni

2.6 Kisah Raja Muda dari Pulau Hitam

Standard

“Ayahku adalah raja negeri ini. Kerajaan Pulau Hitam, begitulah kami menyebutnya karena negeri kami terletak di antara empat gunung dan ibukotanya terletak di tempat danau itu berada sekarang. Aku akan ceritakan kenapa kota yang dulu megah dan ramai kini berubah menjadi sebuah danau. Read the rest of this entry

2.5 Sultan dan Ikan-ikan yang Misterius

Standard

Juru masak istana segera membersihkan ikan-ikan tersebut, lalu menaruhnya di atas wajan dan memberinya sedikit minyak. Namun ketika ia akan membalik ikan-ikan tersebut, tiba-tiba tembok di hadapannya terbelah. Seorang gadis cantik keluar dari dalamnya. Ia mengenakan jubah biru yang terbuat dari satin, dengan anting-anting di telinganya, kalung mutiara tergantung di lehernya yang jenjang, serta cincin bermata rubi di jarinya yang lentik. Tanpa mempedulikan sang juru masak yang terkejut dengan kejadian aneh itu, ia melangkah mendekati penggorengan. Dengan sebatan tongkat di tangannya, ia mengetuk pinggir wajan dan berkata, “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?” Read the rest of this entry

2.4 Kisah Patih yang Dihukum

Standard

Serial Kisah Seorang Nelayan dan Jin (Bagian 4)

Raja yang diceritakan tersebut memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Raja menugaskan seorang Patih untuk menemaninya kemanapun ia pergi.

Suatu hari pangeran dan Patih pergi berburu ke hutan dengan ditemani serombongan kecil pengawal. Tiba-tiba seekor binatang buas muncul di hadapan mereka.

Patih berseru kepada pangeran, “kejar binatang itu!”
Maka pangeran mengejar binatang itu hingga tanpa ia sadari, ia telah terpisah dari rombongannya.

Binatang itu lari semakin cepat dan menghilang di tengah sabana. Saat itu barulah pangeran menyadari bahwa ia telah tersesat. Di tengah kebingungannya mencari jalan pulang, pangeran melihat seorang gadis yang sedang menangis.

Read the rest of this entry

2.3 Kisah Seorang Suami dan Kakaktua

Standard

Seorang pria yang baik punya istri yang cantik, yang dikasihinya dengan amat sangat, dan tidak pernah meninggalkan barang sekejab. Suatu hari, ketika ia karena suatu urusan penting harus pergi jauh dari istrinya, ia pergi ke suatu tempat di mana segala jenis burung yang dijual dan membeli burung beo. Burung beo ini hanya berbicara dengan baik, tetapi dia memiliki karunia untuk memberitahukan segala yang terjadi di depannya. Dia ada di rumah dalam sangkar dan meminta istrinya untuk dimasukkan ke dalam kamarnya dan merawat besar sementara dia pergi. Kemudian ia pergi. Setelah kembali, ia bertanya pada burung kakaktua ini apa yang telah terjadi selama kepergiaannya, dan kakaktua menceritakan beberapa hal yang membuat dia memarahi istrinya.

Istrinya berpikir bahwa salah satu budak nya pasti bercerita tentang apa yang dilakukannya, tetapi mereka mengatakan bahwa yang bercerita adalah burung kakaktua, dan ia memutuskan untuk membalas dendam pada kakaktua itu.

Ketika suaminya berikutnya pergi selama satu hari, dia memerintahkan para budaknya untuk menjalankan di bawah sangkar burung, gilingan, dan lain untuk membuang air di atas sangkar dan yang lain mengambil cermin dan menaruhnya di depan matanya dari kiri ke kanan dalam cahaya lilin. Budak-budak melakukan ini untuk sebagian malam, dan melakukannya dengan sangat baik.

Keesokan harinya, ketika sang suami bertanya kakaktua kembali apa yang telah dilihatnya. Burung itu menjawab, “Tuan yang baik, kilat, guntur dan hujan mengganggu saya sepanjang malam, saya dapat memberitahu Anda apa yang saya derita.”

Suami, yang tahu bahwa itu tidak hujan dan guntur di malam hari, yakin bahwa burung kakaktua tidak berbicara kebenaran, sehingga ia membawanya keluar dari sangkar dan melemparkannya sangat kasar atas dasar bahwa ia membunuhnya. Tapi ia menyesal setelah itu, karena ia menemukan bahwa kakaktua berbicara kebenaran.

Ketika raja Yunani, “kata nelayan untuk para jenius, telah selesai kisah kakaktua itu,” katanya kepada wazir, “dan karenanya, wazir, aku akan mendengarkan bukan untuk Anda, dan aku akan mengurus dokter , dimana saya tidak mau berlaku sebagai suami lakukan ketika dia membunuh burung kakaktua itu ”

Tapi si wazir berkeras.” Tuan, kematian burung beo itu bukan hal yang penting. Tapi ketika menyangkut kehidupan seorang raja lebih baik mengorbankan yang tak berdosa daripada menyelamatkan yang bersalah. Meskipun tidak pasti, namun Tabib Douban, saya yakin ingin membunuhmu. Naluri saya mendorong saya untuk menceritakan tentang kisah wazir yang dihukum.”

“Apa yang telah dilakukan oleh wazir, “kata raja,” sehingga pantas dihukum?”

“Aku akan menceritakan pada Yang Mulia, jika Anda sudi untuk mendengarkan, “jawab wazir.

2.2 Kisah Raja Yunani dan Tabib Duban

Standard

‘Dengarlah wahai Ifrit, dahulu kala di sebuah negeri benama Zouman di daratan Persia ada seorang raja bernama raja Yunani. Beliau sangat kaya raya dan terkenal dengan keberaniannya. Sayang dia menderita penyakit kusta yang tidak kunjung sembuh. Puluhan tabib telah dipanggilnya, namun tidak ada satu obat pun yang bisa menghilangkan kusta dari tubuhnya.

Suatu hari datanglah di negeri itu seorang Tabib bernama Duban. Dia sudah mendalami berbagai ilmu dari Yunani kuno sampai Yunani modern, dari Persia hingga syiria. Dia ahli dalam pengobatan maupun astrologi. Keahliannya membuat kagum tabib-tabib lainnya dan juga para ilmuwan.
Ketika Tabib Duban mendengar tentang penyakit yang diderita raja Yunani, dia bermaksud untuk mencoba mengobatinya. Maka dipelajarilah kembali berbagai buku untuk mencari obat yang paling manjur.

Esoknya dia menghadap raja Yunani. Setelah memberikan penghormatan, disampaikanlah maksud kedatangannya yaitu untuk mengobati penyakit kusta raja.
“Tuanku, saya dengar bahwa belum ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkan penyakit paduka. Jika paduka mengijinkan InsyaAlloh saya bisa menyembuhkannya tanpa obat ataupun salep!” katanya.
“Bagaimana caranya? Demi Alloh, jika kamu bisa menyembuhkanku, aku akan memberikan apapun yang kau mau Harta yang banyak untukmu dan anak cucumu, dan kamu akan kujadikan penasihat dan sahabat terbaikku” kata raja
“InsyaAlloh saya bisa menyembuhkan paduka. Besok saya akan mulai pengobatannya,” kata tabib Duban. Kemudian ia memohon diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Tabib Duban kemudian membuat sebuah stik golf yang diberi lubang di pegangannya. Di lubang itulah tabib Duban memasukan obat racikannya. Kemudian ia juga membuat sebuah bola sebagai pelengkapnya.

Keesokan harinya Tabib Duban kembali menghadap raja. Dia mengajak raja ke lapangan istana. Kemudian memberi raja stik golf buatannya dan sebuah bola. Dimintanya raja untuk memukul bola tersebut sambil menunggang kuda.
“Pukullah bolanya dengan sekuat tenaga. Saat badan paduka berkeringat, maka panas tubuh bafinda akan membuat obat yang ada di dalam stik golf ini ke seluruh tubuh paduka. Setelah itu paduka boleh kembali ke istana untuk mandi air hangat. Pastikan untuk menggosok tubuh paduka hingga bersih. Lalu istirahatlah. InsyaAlloh besok penyakit baginda akan sembuh,” katanya.
Raja Yunani lalu melakukan semua saran Tabib Duban.

Ketika raja terbangun keesokan paginya, dia melihat bahwa kulitnya telah halus. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah menderita kusta. Kulitnya putih bersih tanpa noda.
Raja sangat bersuka cita. Dia segera memerintahkan utusan untuk menjemput tabib Duban ke istana. Sambil berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya, raja memberikan berkantung-kantung emas, lusinan pakaian-pakaian mewah dan hadiah-hadiah lainnya. Sesuai janjinya raja juga mengangkat Tabib Duban menjadi penasihat pribadinya dan mendudukannya di samping singgasananya.

Di antara pejabat kerajaan, ada seorang Wezir yang menaruh benci terhadap tabib Duban. Dia cemburu dengan semua perhatian dan kebaikan raja terhadap Tabib Duban.
Suatu hari sang Wazir menghadap raja secara pribadi.
“Wahai paduka raja yang adil, hambamu ini ingin menyampaikan sebuah nasihat untuk paduka. Saya akan menjadi orang terkutuk jika tidak menyampaikannya pada paduka,” katanya.
Raja terkejut mendengarnya dan bertanya, “nasihat apa?”
“Oh paduka yang mulia. Para leluhur pernah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak bisa melihat tujuan, keberuntungan tidak akan datang padanya. Dan kini saya melihat raja sedang membuat kekeliruan. Sejak ia menganugerahi seorang musuh dengan kebaikan. Seorang musuh yang menginginkan kerajaan ini hancur. Dia menganugerahinya kebaikan, kekuasaan dan menjadikannya penasihatnya,” katanya.
“Siapakah teman yang kau maksud itu?” tanya raja.
“Paduka, tentu saja yang saya maksud adalah penasihat paduka, Tabib Duban!” kata wazir.
“Dia adalah teman terbaikku,” kata raja. “Dan dialah yang telah menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib lain. Karena dialah aku bisa menyingkirkan rasa malu yang dulu menderaku karena penyakitku. Aku tidak akan menemukan orang sehebat dia di seluruh negeri. Tapi kenapa kau menentangnya? Aku telah memerintahkan pegawaiku, untuk memberikannya gaji 1000 keping emas setiap bulannya, dan bahkan jika aku memberikan sebagian kerajaanku padanya, masih tidak akan cukup mewakili rasa terima kasihku.”
“Oh tuanku, bagaimana kau yakin bahwa dia tidak menipumu? Sesungguhnya aku mengatakan hal ini karena rasa baktiku padamu,” kata Wezir.
“Benarkah tidak ada maksud lain dari perkataanmu ini wahai Wezir? Aku takut kau melakukan ini karena rasa cemburu. Jika aku mengikuti nasihatmu, aku takut aku akan menyesal seperti seorang suami yang membunuh burung kakak tuanya. Aku akan menceritakan kisahnya padamu.” Kata raja.

Maka oh Ifrit, raja pun memulai ceritanya…

——-

2.1 Kisah Nelayan dan Jin

Standard

“Bertahun-tahun yang lalu hiduplah seorang nelayan tua dan lemah, yang memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Mereka sangaaaaat miskin sehingga ia kadang-kadang tidak makan sepanjang hari. Setiap hari si nelayan pergi ke pantai pagi-pagi sekali. Ia memiliki sebuah kebiasaan unik saat mencari ikan, yaitu dia hanya akan menebarkan jalanya 4 kali saja setiap harinya.

Read the rest of this entry

2.6 The Story of the Young King of the Black Isles

Standard

You must know, sire, that my father was Mahmoud, the king of this country, the Black Isles, so called from the four little mountains which were once islands, while the capital was the place where now the great lake lies. My story will tell you how these changes came about.

My father died when he was sixty-six, and I succeeded him. I married my cousin, whom I loved tenderly, and I thought she loved me too.

But one afternoon, when I was half asleep, and was being fanned by two of her maids, I heard one say to the other, “What a pity it is that our mistress no longer loves our master! I believe she would like to kill him if she could, for she is an enchantress.”

I soon found by watching that they were right, and when I mortally wounded a favourite slave of hers for a great crime, she begged that she might build a palace in the garden, where she wept and bewailed him for two years.

At last I begged her to cease grieving for him, for although he could not speak or move, by her enchantments she just kept him alive. She turned upon me in a rage, and said over me some magic words, and I instantly became as you see me now, half man and half marble.

Then this wicked enchantress changed the capital, which was a very populous and flourishing city, into the lake and desert plain you saw. The fish of four colours which are in it are the different races who lived in the town; the four hills are the four islands which give the name to my kingdom. All this the enchantress told me to add to my troubles. And this is not all. Every day she comes and beats me with a whip of buffalo hide.

When the young king had finished his sad story he burst once more into tears, and the Sultan was much moved.

“Tell me,” he cried, “where is this wicked woman, and where is the miserable object of her affection, whom she just manages to keep alive?”

“Where she lives I do not know,” answered the unhappy prince, “but she goes every day at sunrise to see if the slave can yet speak to her, after she has beaten me.”

“Unfortunate king,” said the Sultan, “I will do what I can to avenge you.”

So he consulted with the young king over the best way to bring this about, and they agreed their plan should be put in effect the next day. The Sultan then rested, and the young king gave himself up to happy hopes of release. The next day the Sultan arose, and then went to the palace in the garden where the black slave was. He drew his sword and destroyed the little life that remained in him, and then threw the body down a well. He then lay down on the couch where the slave had been, and waited for the enchantress.

She went first to the young king, whom she beat with a hundred blows.

Then she came to the room where she thought her wounded slave was, but where the Sultan really lay.

She came near his couch and said, “Are you better to-day, my dear slave? Speak but one word to me.”

“How can I be better,” answered the Sultan, imitating the language of the Ethiopians, “when I can never sleep for the cries and groans of your husband?”

“What joy to hear you speak!” answered the queen. “Do you wish him to regain his proper shape?”

“Yes,” said the Sultan; “hasten to set him at liberty, so that I may no longer hear his cries.”

The queen at once went out and took a cup of water, and said over it some words that made it boil as if it were on the fire. Then she threw it over the prince, who at once regained his own form. He was filled with joy, but the enchantress said, “Hasten away from this place and never come back, lest I kill you.”

So he hid himself to see the end of the Sultan’s plan.

The enchantress went back to the Palace of Tears and said, “Now I have done what you wished.”

“What you have done,” said the Sultan, “is not enough to cure me. Every day at midnight all the people whom you have changed into fish lift their heads out of the lake and cry for vengeance. Go quickly, and give them their proper shape.”

The enchantress hurried away and said some words over the lake.

The fish then became men, women, and children, and the houses and shops were once more filled. The Sultan’s suite, who had encamped by the lake, were not a little astonished to see themselves in the middle of a large and beautiful town.

As soon as she had disenchanted it the queen went back to the palace.

“Are you quite well now?” she said.

“Come near,” said the Sultan. “Nearer still.”

She obeyed. Then he sprang up, and with one blow of his sword he cut her in two.

Then he went and found the prince.

“Rejoice,” he said, “your cruel enemy is dead.”

The prince thanked him again and again.

“And now,” said the Sultan. “I will go back to my capital, which I am glad to find is so near yours.”

“So near mine!” said the King of the Black Isles.

“Do you know it is a whole year’s journey from here? You came here in a few hours because it was enchanted. But I will accompany you on your journey.”

“It will give me much pleasure if you will escort me,” said the Sultan, “and as I have no children, I will make you my heir.”

The Sultan and the prince set out together, the Sultan laden with rich presents from the King of the Black Isles.

The day after he reached his capital the Sultan assembled his court and told them all that had befallen him, and told them how he intended to adopt the young king as his heir.

Then he gave each man presents in proportion to his rank.

As for the fisherman, as he was the first cause of the deliverance of the young prince, the Sultan gave him much money, and made him and his family happy for the rest of their days.

***********