3.4 Kisah Si Pencemburu dan Syekh yang Dicemburuinya

Standard

‘Ketahuilah wahai tuan Jin, bahwa dahulu ada seorang pria yang sangat dicemburui oleh tetangganya karena kesuksesannya. Tapi semakin ia cemburu, Alloh semakin baik pada tetangganya. Ia semakin sukses. Tapi ketika tetangganya itu mengetahui kecemburuan tetangganya dan keinginannya untuk menghancurkan dirinya, ia memutuskan untuk pindah dan membangun sebuah tempat ibadah di pinggir sebuah sumur di kawasan yang terpencil. Di sana ia menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Alloh.


Banyak sekali Fakir yang berkumpul di tempat ibadahnya dan ia sangat dihormati. Mereka percaya akan kesuciannya dan mereka memberi gelar syeikh kepadanya. Ketenarannya akhirnya sampai di telinga si Pencemburu. Ia buru-buru menaiki kudanya dan berangkat untuk mengunjunginya. Di sana ia disambut dengan sangat ramah.
“Aku kemari dengan membawa berita yang akan memberimu kebaikan di akhirat kelak dan aku akan memperoleh pahala karena menyampaikannya padamu,” kata Pencemburu.
“Subhanalloh, semoga Alloh membalas kebaikanmu,” kata Syeikh.
“Suruhlah para Fakir itu masuk ke kamarnya! Karena berita ini sangat rahasia dan tidak boleh ada yang mendengarnya selain kita,” kata Pencemburu.
Setelah para Fakir masuk ke dalam kamar mereka, si Pencemburu berkata; “Mari kita membicarakannya sambil berjalan-jalan.”
Lalu mereka pun berjalan hingga tiba di sumur yang terpencil dan tiba-tiba si Pencemburu mendorong Syeikh hingga jatuh ke dalam sumur. Menyangka tetangganya telah mati, dengan puas si Pencemburu pulang ke rumahnya.
Ternyata sumur itu dihuni oleh beberapa Jin. Mereka menangkap tubuh Syeikh dan mendudukkannya di atas sebuah batu besar.
“Tahukah kau siapa dia?” tanya salah satu jin kepada temannya.
“Kami tidak tahu,” sahut temannya.
“Dia adalah seorang pria yang karena ada seseorang yang mencemburui kesuksesannya, memutuskan untuk pergi dan menetap di tempat ini. Dialah yang selalu menghibur kita dengan bacaan zikirnya dan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Ketika si Pencemburu mengetahui keberadaannya, ia datang kemari dan melemparkannya ke dalam sumur ini. Ketahuilah, bahwa hari ini ketenarannya telah sampai di telinga Sultan dan ia akan mengunjunginya besok pagi untuk urusan yang menyangkut kesehatan puterinya.” Kata Jin yang pertama.
“Memang kenapakah puteri Sultan itu?” tanya temannya.
“Ia gila karena Maimun anaknya Dedemit, jatuh cinta padanya. Sebenarnya obatnya sangat gampang,” kata Jin pertama.
“Apa itu?” tanya yang lain.
“Di dalam rumah ibadah itu ada seekor kucing hitam dengan sedikit bulu putih di ujung ekornya. Kalau tujuh helai bulunya dicabut dan dipakai untuk mengasapi puteri raja itu, maka setan itu akan lari dan puteri akan sembuh,” kat jin pertama.

Esoknya para Fakir melihat Syeikh melayang keluar dari dalam sumur. Mereka semakin yakin akan kesucian syeikh mereka.
Sesampainya di tempat ibadahnya Syeik segera mencari kucing hitamnya dan mencabut 7 helai bulu putih di ujung ekornya. Menyimpannya dalam sehelai kain. Tak berapa lama rombongan Sultan datang. Syeikh menyambut dan mempersilahkan mereka masuk.
“Oh Tuan Sultan. Apakah kedatanganmu kemari untuk menanyakan kesanggupanku menyembuhkan putri anda?” tanya Syeikh.
“Ya Syeikh yang suci,” jawab Sultan kagum.
“Bawalah ia kemari. Atas nama Alloh yang Maha Menyembuhkan, aku yakin ia akan sembuh dalam sekejap,” kata Syeikh.
Ketika Putri telah berada di hadapannya, Syeikh segera membakar ketujuh bulu kucing tersebut dan mengasapi hidung puteri. Terdengar jeritan jin yang kesakitan. Jin itu melarikan diri dan detik itu juga sembuhlah sang Puteri.

Puteri yang telah pulih kesadarannya segera menutupi wajahnya dengan cadar dan bertanya pada ayahnya.
“Ada apa gerangan? Dan dimanakah aku berada?” tanyanya.
“Jangan khawatir anakku!” ujar Sultan dengan suka cita.
Sultan berpaling pada pengikutnya dan bertanya, “Hadiah apakah yang paling pantas aku berikan kepada Syeikh ini atas jasanya?”
“Nikahkanlah ia dengan puteri!” jawab para Tetua istana.
Maka Sultan menikahkan mereka berdua. Ketika akhirnya Sultan mangkat, Syeikh diangkat untuk menggantikannya.

Suatu hari saat Syeikh melakukan kunjungan dengan para prajuritnya, dilihatnya si Pencemburu datang menghampirinya. Syeikh dengan sopan memintanya untuk ikut duduk di keretanya. Ia membawanya ke istana dan menjamunya dengan hormat. Lalu ia memberikan baju-baju bagus dan berkantung-kantung uang emas kepada si Pencemburu kemudian mengantarkannya pulang dengan selamat.
Perhatikanlah wahai Jin! Bagaimana Syeikh itu memaafkan orang yang telah mencelakakannya. Ia tidak membalas dendam sedikit pun,’ kataku.

Jin Ifrit yang mendengarkan ceritaku kembali berteriak, “Jangan banyak bicara! Kau tidak akan kubunuh, tapi juga tak akan kuampuni. Maka bersiaplah untuk menerima sihirku!”

——-

Tiba-tiba ia mencengkramku dan kemudian aku telah terbang di udara. Di puncak gunung ia mengambil segenggam debu dan mengucapkan mantera. Lalu melemparkan debu itu ke tubuhku.
“Jadilah seekor monyet!” kutuknya.
WUZZ!! Aku berubah menjadi monyet yang sangat jelek.
Setelah jin itu meninggalkanku, aku menangis. Tapi aku memutuskan untuk mengikuti permainan nasib dan bersabar. Akhirnya aku menuruni gunung dan setelah sebulan lamanya berjalan aku tiba di pinggir pantai. Di kejauhan tampak sebuah kapal datang merapat. Aku bersembunyi di balik sebuah batu besar menunggu hingga kapal cukup dekat. Kemudian aku meloncat ke dalam kapal yang penuh dengan pedagang dan penumpang. Salah seorang di antaranya berteriak kepadaku, “Itu makhluk pembawa sial yang membuat kita rugi.”
“Lemparkan ke dalam laut!” kata yang lain.
“Kita bunuh saja!” kata Kapten.
Aku berlari dan memeluk kaki Kapten sambil berurai air mata. Kapten merasa iba kepadaku.
“Tuan-tuan, monyet ini meminta perlindungan dariku dan aku akan melindunginya. Sejak saat ini ia ada dalam pengawasanku. Tak seorang pun boleh melukainya. Atau akan ada pertumpahan darah di kapal ini!” kata Kapten.

Kapten memperlakukanku dengan sangat baik. Apapun yang dikatakan Kapten aku turuti. Kebutuhannya aku penuhi dan aku membaktikan diriku sebagai pelayanannya. Tidak heran jika kemudian Kapten sangat menyayangiku.

Kapal kembali berlayar selama 15 hari sebelum akhirnya membuang sauh di sebuah kota besar yang penduduknya sangat banyak dan sepertinya hanya Alloh yang tahu berapa jumlahnya. Tak berapa lama setelah kapal kita berlabuh, datang seorang pegawai kerajaan yang menyambut kami dengan ramah.
“Raja kami mengucapkan selamat datang kepada anda semua. Ia mengirimku kemari dengan membawa gulungan kertas ini, dimana kami mohon masing-masing dari anda menulis sebaris kalimat di atasnya. Sekretaris kerajaan kami baru-baru ini meninggal dunia, dan raja bersumpah tidak akan mengangkat penggantinya jika tulisannya tidak sebagus dan sebaik dia,” katanya.

Para pedagang dan penumpang yang bisa menulis, mengambil kertas itu dan menuliskan kalimat-kalimat yang mereka ingat. Ketika tidak ada lagi yang bersedia menulis, aku dengan cepat mengambil gulungan kertas itu. Karena takut aku melemparkan kertas itu ke laut atau merobeknya, para pedagang dan penumpang mencoba menghalangi dan menakut-nakutiku. Tapi aku memberi isyarat bahwa aku ingin menulis.
“Kami tak pernah melihat ada monyet yang bisa menulis,” kata mereka.
“Biarkan ia mencoba,” kata kapten. “Kalau tulisannya jelek atau ia merobek kertas itu, aku akan membunuhnya. Tapi jika tulisannya bagus, aku akan mengangkatnya sebagai anakku karena aku belum pernah melihat monyet yang lebih pintar dan sopan seperti dia.”

Aku lalu mengambil pena, membenamkannya ke dalam tinta dan menuliskan bait-bait ini;

Waktu telah mencatat kebaikan-kebaikan dari para bangsawan
Tapi tak ada yang bisa menghitung kebaikanmu
Semoga Tuhan tidak mengambil kebaikan hati seorang ayah
Karena engkaulah ayah dari semua kebaikan.
Lalu dengan gaya tulisan yang lebih formal aku menulis;

Tak ada pencatat kebaikan yang tak menderita;
Tapi apa yang dicatatkan tangan adalah abadi.
Catatlah, meskipun sia-sia
Apa lagi yang lebih menyenangkanmu
Selain melihat catatanmu di hari Kebangkitan.
Aku menuliskan lagi beberapa kalimat dengan gaya tulisan yang berbeda-beda, kemudian menyerahkan kertas itu kepada pegawai kerajaan yang lalu membawanya kepada Raja. Tak ada tulisan yang disukai raja kecuali tulisanku.
“Bawa orang yang menulis kalimat ini! Pakaikan ia pakaian yang bagus. Naikkan ia ke atas kuda kehormatan dan bawa ia menghadapku!” perintah raja.
Mendengar perintah Raja para pegawainya tak bisa menahan geli. Raja menjadi murka.
“Kurang ajar. Kalian menertawakanku?” bentak raja.
“Maafkan kami Tuan. Kami tidak menertawakan Tuan. Kami hanya merasa lucu karena penulis yang harus kami jemput adalah seekor monyet, bukan anak Adam seperti kita. Ia milik kapten kapal yang baru merapat hari ini,” jawab pegawainya.
“Benarkah?” tanya Raja setengah tak percaya.
“Ya Tuan,” jawab pegawainya.
“Aku ingin membeli monyet itu,” kata Raja.

Raja mengirimkan prajuritnya untuk menjemputku. Ia bersikeras agar aku diberi pakaian yang bagus dan dinaikkan ke atas kuda lalu mengiringinya dengan iringan musik. Sepanjang jalan rakyat merasa kagum sekaligus lucu melihatku. Ketika aku sampai di hadapan raja, aku memberi hormat dengan mencium tanah tiga kali. Raja menyuruhku duduk dan aku duduk dengan bertumpu pada lututku. Semua yang hadir terpana melihat kesopananku, begitu pula raja. Ia memerintahkan para menteri dan pegawainya untuk mengundurkan diri. Setelah tinggal aku dan raja serta beberapa kasim dan budak, raja memerintahkan untuk menghidangkan makanan lalu menyuruhku untuk menyantapnya. Aku bangkit dan memberi hormat sebanyak 7 kali baru kemudian menyantap hidangan. Setelah selesai, aku mencuci tanganku kemudian mengambil kertas serta pulpen dan menuliskan beberapa kalimat. Raja membaca tulisanku dan ia sangat gembira.
“Mungkinkah seekor monyet bisa memiliki kemampuan menulis kaligrafi yang demikian indah. Ini adalah keajaiban di atas keajaiban,” seru raja.

Seorang budak menggelar papan catur di hadapan raja.
“Maukah kau bermain denganku?” tanya raja.
Aku mengangguk. Kami bermain dua kali dan aku mengalahkannya dengan mudah.
“Kalau saja kau seorang manusia, pastilah kepintaranmu melebihi orang-orang sebayamu!” kata Raja.
“Panggillah tuan Puteri Sitt-Al Husni kemari. Ia pasti penasaran ingin melihat monyet ajaib ini,” perintah raja pada seorang dayang.
Dayang itu segera berlalu dan ketika kembali ia bersama puteri raja. Sang puteri segera menutupi wajahnya begitu ia melihatku.

——-

“Ayah, kenapa kau memanggilku saat ada pemuda asing di sini?” tanyanya.
“Anakku, tidak ada pemuda asing di sini. Lihat! Hanya ada aku, kasim, dayang dan monyet ini. Untuk apa kau tutupi wajahmu itu?,” sahut raja.
“Monyet ini oh ayah, adalah putera seorang raja bernama Eymar. Dia sedang dikutuk oleh Jin ifrit bernama Jarjaris anak dari Iblis. Setelah membunuh isterinya sendiri, puteri raja Ifitamus, ia menyihir pemuda ini menjadi monyet. Sebenarnya ia adalah pangeran yang sangat terpelajar dan pintar,” jawab puteri Sitt-Al Husni.
“Benarkah?” tanya raja padaku.
Aku mengangguk dan tak dapat menahan tangisku.
“Bagaimana kau tahu?” tanya raja kepada Puteri.
“Ayah, ketika aku kecil dulu, aku kenal seorang wanita yang memberitahuku teori-teori sihir dan cara mempraktekannya. Hingga kini aku telah hapal sekitar 170 bentuk sihir. Aku bahkan bisa mengubah gunung kaf menjadi lauttan dengan ikan-ikan berenang di dalamnya,” kata puteri.
“Demi Alloh, bisakah kau mengubah pemuda ini ke wujud aslinya?” tanya raja.
“Dengan senang hati ayah,” jawab puteri.
Ia mengambil sebuah pisau yang di atasnya tertulis nam Alloh dalam tulisan Hebrew. Lalu ia menggambar sebuah lingkaran di tengah ruangan dan menuliskan beberapa nama dan kata misterius dalam huruf Kufic. Kemudian ia merapal mantera yang kata-katanya tidak kami mengerti. Tiba-tiba ruangan menjadi gelap dan sedetik kemudian muncullah jin ifrit dengan wujud aslinya yang seperti raksasa dan membuatku serta raja merasa ketakutan.
“Kami tidak mengundangmu!” teriak puteri.
Ifrit mengubah dirinya menjadi singa dan mengaum.
“Pengkhianat. Beraninya kau melanggar sumpah! Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling mengganggu satu sama lain?” aum Ifrit.
“Makhluk terkutuk! Aku tidak pernah mengucapkan sumpah apapun denganmu!” seru puteri.
“Kalau begitu terima kematianmu!” kata Ifrit sambil melompat ke arah puteri siap mencakarnya.


Tapi gerakan puteri begitu cepat sehingga terkaman singa itu luput. Puteri mencabut sehelai rambutnya dan setelah memanterainya berubah menjadi sebilah pedang yang tajam. Ia menyabetkan pedangnya ke tubuh singa hingga terbelah dua. Kepala singa itu berubah menjadi kalajengking raksasa dan puteri berubah menjadi ular yang sangat besar. Mereka saling bergulung, mencekik dan memiting hingga hampir satu jam lamanya.
Ifrit mengubah dirinya menjadi elang sementara puteri berubah menjadi burung hering yang segera mengejar elang. Kemudian Ifrit berubah menjadi kucing hitam dan puteri berubah menjadi serigala. Pertarungan semakin seru. Ifrit yang kini berbentuk kucing terdesak dan saat ada kesempatan ia mengubah dirinya menjadi cacing dan masuk ke dalam buah delima besar yang ada di samping air mancur di tengah ruangan. Malang bagi Ifrit karena buah delima itu sudah sangat masak dan segera saja ia jatuh dari dahannya dan menimpa lantai marbel hingga pecah. Bijinya berhamburan memenuhi lantai. Puteri yang masih berbentuk serigala, menggoyangkan kepalanya, seketika ia berubah menjadi ayam betina berwarna putih. Dengan lahap dipatukinya semua biji delima tersebut. Tapi sebutir buah delima terlempar ke sudut kolam air mancur, aman tersembunyi.

Puteri berkokok dan mengepakkan sayapnya seakan bertanya, “apa ada lagi biji yang tersisa?”
Tapi kami tidak mengerti apa yang diucapkannya. Puteri berteriak-teriak histeris dan berlari kesana-kemari hingga dilihatnya butir delima terakhir di pinggir kolam. Tapi saat Puteri hendak mematuknya, biji delima itu jatuh ke kolam dan berubah menjadi ikan. Puteri segera mengubah dirinya menjadi ikan besar dan melompat ke dalam kolam. Tiba-tiba kami mendengar jeritan yang mengerikan dari dasar kolam, membuat kami ketakuata. Lalu Ifrit meloncat dari kolam. Dari mulut, hidung dan matanya keluar api yang menyala-nyala. Lalu muncullah puteri dari dalam kolam. Ia juga mengeluarkan api yang menyala. Mereka saling menggempur selama hampir satu jam. Api saling menyambar dan menyebabkan ruang penuh dengan asap. Aku dan raja melompat ke dalam kolam untuk menghindarkan diri dari sambaran api.
“Tiada kekuatan yang lebih hebat dan lebih kuat selain kekuatan Alloh. Karena-Nya kami hidup dan kepada-Nya kami kembali. Demi Alloh, seandainya saja hamba tidak memaksa puteriku untuk menolong monyet ini hingga harus melawan jin terkutuk itu. Ya Alloh, kami hanya bermaksud menolong dan yang kami dapatkan adalah kecemasan,” ujar raja.

Ifrit berteriak kencang dari tengah kobaran api, tiba-tiba ia memnyemburkan api ke arah kami. Putri menghalanginya. Api dan api bertemu membuat suatu letupan dan percikan. Percikan itu salah satunya menghantam mata kiriku, membuatnya buta. Satu percikan mengenai wajah raja, membakar kumis dan janggutnya serta membuat salah satu gigi bawahnya tanggal. Percikan yang lain mengenai dada dayang sang Putri, ia tewas seketika. Kami hampir putus asa ketika terdengar teriakan Putri dari tengah kobaran api.
“Allohu Akbar! Alloh Maha Besar! Pertolongan hanya untuk umat yang beriman dan celakalah pengingkar ajaran Alloh dan Rasul-Nya, Muhammad SAW!”
Disertai jeritan Ifrit yang menggetarkan, jin itu berubah menjadi abu. Puteri berlari ke arah kami.
“Ambilkan segelas air,” serunya.
Pelayan segera mengambilkan dan memberikannya kepada Putri yang segera memantrainya. Lalu ia memercikkan air itu kepadaku.
“Dengan nama Alloh, kembalilah ke wujud aslimu!” katanya dan wuzz aku kembali menjadi diriku hanya saja mata kiriku tetap buta.

Tiba-tiba Putri menjerit kesakitan.
“Api! Api!” teriaknya. “Oh ayah, aku sekarat, jin itu telah melukaiku. Jika ia manusia, aku dapat menaklukannya dengan mudah. Aku hampir bisa mengalahkannya hingga ia bersembunyi di dalam biji buah delima dan aku tidak melihatnya. Lalu ia menyerangku saat aku lengah. Aku mengeluarkan semua jurus yang kutahu. Terakhir Jin itu mengeluarkan jurus apinya yang setahuku sedikit sekali ada yang bisa selamat darinya. Aku berhasil membakarnya setelah aku memaksanya dengan bacaan Islam. Dan kini akupun sekarat.”
Seberkas api memancar dari kaki sang Putri, terus naik ke atas hingga mencapai wajahnya. Saat itu Putri menangis.
“Ya Alloh aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau dan Nabi Muhammad adalah utusan-Mu,” isaknya.
Sedetik kemudian putri berubah menjadi abu di samping abu Ifrit. Kami menangis di samping abunya. Aku berharap aku bisa menggantikan posisinya. Tapi takdir memang berkata lain.

Raja yang menyaksikan putrinya menjadi abu, menampari wajahnya sendiri dan mengoyak bajunya. Aku melakukan hal yang sama dan kami meratapi kepergian putri hingga tujuh hari lamanya. Raja memerintahkan untuk membangun kubah di atas abu putrinya. Sedangkan abu Ifrit dilemparkan begitu saja di udara.

Raja kemudian jatuh sakit dan hampir sekarat. Tapi syukurlah ia bisa sembuh setelah sebulan terbaring sakit. Ia lalu memanggilku.
“Anak muda. Sebelumnya hidup kami aman dan bahagia sampai kau datang dengan wajah burukmu dan bencana pun datang. Pertama aku kehilangan putriku yang paling berharga dan kedua wajahku terbakar hingga janggutku habis dan gigiku rontok. Dayangku juga tewas karenanya. Tapi tentu saja aku tidak bisa menyalahkanmu karena semuanya adalah takdir Alloh. Sekarang aku mohon padamu anak muda, pergilah dari istanaku! ” perintah raja.

Maka aku pun pergi. Sepanjang jalan aku mengenang semua perjalanan nasibku yang buruk. Tapi aku bersyukur kepada Alloh atas perlindungan-Nya. Sebelum aku meninggalkan negeri itu, aku sengaja mencukur kumis, janggut, rambut dan alisku. Lalu aku mengganti bajuku dengan baju pengembara. Tujuanku adalah pergi ke Baghdad menemui Kalifah yang terkenal dengan keadilannya untuk mengadukan nasibku. Kemudian aku bertemu dengan pengembar kesatu, lalu pengembara ketiga. Kami semua orang asing di negeri ini. Nasib mengantarkan kami ke rumah ini. Begitulah kisah yang bisa kuceritakan padamu wahai Nona,” pengembara kedua mengakhiri ceritanya.

“Cerita yang sangat menarik. Baiklah kau boleh pergi dari sini,” kata gadis bermata hitam.
“Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum aku mendengar cerita rekan-rekan yang lain,” kata pengembara kedua.

Pengembara ketiga bangkit dari duduknya.
“Nona, ceritaku ini sangat berbeda. Lebih menarik dan luar biasa. Jika mereka seperti sekarang karena dipermainkan oleh nasib, aku menggariskan nasibku sendiri, menimpakan kesedihan atas kemauanku, mencukur dan menghilangkan mataku olehku sendiri,” kata pengembara ketiga memulai ceritanya.
“Dengarlah kisahku ini….”

——-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s