2.5 Sultan dan Ikan-ikan yang Misterius

Standard

Juru masak istana segera membersihkan ikan-ikan tersebut, lalu menaruhnya di atas wajan dan memberinya sedikit minyak. Namun ketika ia akan membalik ikan-ikan tersebut, tiba-tiba tembok di hadapannya terbelah. Seorang gadis cantik keluar dari dalamnya. Ia mengenakan jubah biru yang terbuat dari satin, dengan anting-anting di telinganya, kalung mutiara tergantung di lehernya yang jenjang, serta cincin bermata rubi di jarinya yang lentik. Tanpa mempedulikan sang juru masak yang terkejut dengan kejadian aneh itu, ia melangkah mendekati penggorengan. Dengan sebatan tongkat di tangannya, ia mengetuk pinggir wajan dan berkata, “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?”

Juru masak pun pingsan tak sadarkan diri.

Gadis itu mengulang pertanyaannya beberapa kali sebelum akhirnya ikan-ikan itu mengangkat kepalanya, “ya, ya! Jika kamu kembali kami pasti kembali. Jika kamu datang kami pasti datang. Dan jika kamu bersumpah, maka kami pun demikian!”

Lalu gadis itu mematikan api dengan tongkatnya lalu kembali menghilang ke dalam tembok yang segera menutup kembali seperti semula.
Juru masak istana yang baru sadar dari pingsannya, segera menengok ke dalam penggorengan dan mendapatkan bahwa ikan-ikan itu telah gosong. Ia sangat ketakutan, menyadari bahwa sultan akan murka.
“Aduh!” keluhnya, “Bagaimana aku melaporkannya pada sultan? Ia pasti tidak percaya jika aku menceritakan yang sebenarnya.”

Ketika ia tengah kebingungan, Wezir datang dan berkata “Juru masak, bawalah ikannya ke hadapan sultan!”
Juru masak dengan ketakutan menangis dan menceritakan kejadian aneh yang menimpanya. Wezir tercengang mendengarnya. Ia memutuskan untuk membuktikannya sendiri. Maka ia mengatakan kepada sultan bahwa karena satu dan lain hal, ikannya tidak jadi dihidangkan. Ia lalu memanggil nelayan dan memintanya untuk membawakan kembali ikan yang sama. Nelayan berjanji akan membawa ikan-ikan itu esok pagi.

Esoknya nelayan pergi ke danau dan kembali mendapatkan empat ekor ikan yang berbeda warna dan membawanya ke hadapan Wezir. Wezir membawanya ke dapur dan berkata kepada juru masak, “Masaklah! Aku ingin melihat sendiri kejadian yang kau ceritakan.”
Juru masak segera membersihkan ikan tersebut dan kemudian menaruhnya di atas wajan. Saat ikan-ikan tersebut telah matang di satu sisi dan siap dibalik, dinding di belakan wajan tersebut kembali terbelah. Dari dalamnya keluarlah gadis yang sama. Lalu dengan tongkatnya ia mengetuk-ngetuk wajan dan berkata: “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?” Ikan-ikan itu mengangkat kepalanya dan menjawab dengan jawaban yang sama. Gadis itu mematikan api dengan tongkatnya lalu menghilang ke dalam tembok.
“Waw, sungguh luar biasa! Aku harus memberitahukannya pada sultan,” kata Wezir.

Sultan sangat penasaran mendengar cerita hebat tersebut.
“Aku harus melihat sendiri. Suruhlah nelayan untuk membawa ikan-ikan yang sama!” kata sultan.
Segera setelah nelayan menyerahkan ikannya dan menerima hadiahnya, Wezir membawanya ke ruang pribadi sultan. Wezir sendiri yang membersihkan dan menggoreng ikan-ikan tersebut di hadapan sultan. Dan seperti kemarin, ketika ikan sudah matang di satu sisi dan siap dibalik, tembok di belakang penggorengan itu terbuka.

Namun kini yang datang bukanlah seorang gadis cantik melainkan seorang laki-laki berkulit hitam yang berpakaian seperti pelayan. Orang hitam ini bertubuh sangat besar dan membawa tongkat berwarna hijau ditangannya. Dengan tongkat itu ia mengetuk sisi penggorengan dan berkata dengan suaranya yang jelek, “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?”
Dan ikan-ikan itu menjawab dengan jawaban yang sama. Orang hitam itu melemparkan wajan hingga ke tengah ruangan dan mengubah ikan-ikan tersebut menjadi arang. Lalu ia pun menghilang ke dalam tembok yang segera menutup kembali.

“Kini aku yakin bahwa ikan-ikan ini bukan ikan sembarangan, aku harus mencari tahu. Panggillah segera nelayan untuk menghadapku!” kata sultan.

“Nelayan!” kata sultan setelah nelayan datang menghadap, “Dimana kau tangkap ikan-ikan itu?”
“Hamba menangkapnya dari sebuah danau yang terletak di antara 4 bukit kecil, di belakang gunung yang bisa tuanku lihat dari sini,” kata nelayan.
“Kamu tahu danau itu?” tanya sultan kepada Wezir.
“Tidak tuanku!” jawabnya. “Hamba belum pernah mendengarnya meskipun hamba sering berburu di sekitar gunung tersebut.”
Menurut nelayan, danau itu bisa ditempuh dalam waktu tiga jam, dan karena hari masih siang, sultan mengumpulkan beberapa pengawal termasuk Wezir untuk berangkat ke danau tersebut.

Mereka tiba di danau dan melihat bahwa danau itu sangat luas. Airnya begitu bening sehingga dasarnya bisa terlihat. Dan di dalamnya, ribuan ikan berenang, ikan merah, ikan, putih, ikan kuning dan ikan biru.
“Aku heran kenapa tak seoang pun dari kita yang pernah mendengar danau ini, padahal jaraknya begitu dekat dengan istana. Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Demi Alloh, aku tidak akan kembali ke istana sebelum aku tahu penyebabnya!” kata sultan.
Ia lalu memerintahkan kepada pengawalnya untuk memasang tenda dan bermalam di sana.

Malamnya sultan memanggil Wezir.

“Kejadian ini sungguh membuatku penasaran. Danau yang yang tiba-tiba ada di sini, orang hitam yang datang ke kamarku, ikan yang bisa bicara, semuanya sangat tidak biasa. Aku memutuskan untuk menyelidikinya sendiri. Tapi kau haus merahasiakan kepergianku. Berjagalah di depan tendaku. Jika siapapun ingin menemuiku, katakana bahwa aku sedang sakit dan tidak ingin diganggu. Lakukan itu hingga aku kembali!” perintah sultan.

Sultan menunggu hingga semua pengawalnya tidur, lalu tanpa meninggalkan suara ia pergi meninggalkan perkemahan. Yang ditujunya adalah salah satu dari keempat bukit kecil yang mengelilingi danau. Ia menempuhnya tanpa kesulitan. Sultan terus berjalan sepanjang malam, sepanjang pagi hingga matahari mulai terik. Ia memutuskan untuk mencari tempat untuk beristirahat. Tampak di kejauhan sebuah bangunan berwarna hitam menjulang, maka sultan segera menuju ke tempat itu. Ternyata bangunan itu adalah sebuah istana yang terbuat dari marmer hitam yang mengkilat seperti cermin dan disangga dengan besi-besi yang kuat.

Didorong rasa penasaran yang menghantuinya, sultan mendekati isatan tersebut. Salah satu daun pintunya dalam keadaan terbuka. Sultan mengetuk pintu itu, mula-mula dengan ketukan halus. Satu kali, tidak ada jawaban. Kedua kali juga tidak ada jawaban. Raj mengetuk pinu itu unutk ketiga kalinya, kali ini dengan ketukan yang keras. Namun tetap tidak ada jawaban.
“Tidak mungkin tidak ada penghuninya,” pikir sultan. “Baiklah aku masuk saja. Toh aku sudah mengetuk.”
Sultan masuk ke istana tersebut.
“Assalamu alaikum…apakah ada orang di dalam? Aku seorang pengembara dan ingin beristirahat, “ teriak sultan.
Tidak ada sahutan. Sultan mengulanginya lagi berkali-kali tapi tetap tidak ada yang menyahut.

Sultan semakin penasaran, ia meneruskan langkahnya ke tengah istana. Tidak ada satu orang pun yang ditemuinya. Tapi barang-barang di istana ini terlihat sangat terpelihara dan berkualitas tinggi. Akhirnya sultan sampai di sebuah ruangan yang sangat luas. Lantainya tertutup permadani sutra yang sangat halus. Sofa-sofa dilapisi kain mecca yang mewah. Tirai-tirai sutra India berenda emas dan perak tergantung indah di setiap jendela.
Lalu sultan sampai di sebuah teras yang sangat indah. Empat patung singa terbuat dari emas menghiasi setiap sudutnya. Air yang sangat jernih mengalir dari mulutnya seperti air terjun kecil. Langit-langitnya dilukis dengan lukisan yang sangat menawan.
Istana itu dikelilingi oleh taman di ketiga sisinya. Bunga-bunga beraneka warna, air mancur-air mancur yang indah, dan ornamen-ornamen indah lainnya menghiasi taman tersebut. Ribuan burung beraneka jenis juga ikut menghidupkan taman itu dengan suaranya yang merdu. Sebuah jarring yang sangat lebar mengelilingi taman tersebut, mencegah burung-burung tersebut meloloskan diri.

Sultan berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Semuanya tampak luar biasa. Namun tak seorang manusia pun yang dijumpainya. Akhirnya sultan duduk melepaskan lelah di sebuah bangku yang menghadap taman. Lalu samara-samar terdengar sebuah tangisan, “Duhai nasib! Kau telah membuatku begitu menderita. Kau menghalangi kebahagiaanku! Dan kau memberiku istri terburuk dalam hidupku. Kumohon hentikanlah! Atau berilah aku kematian untuk mengakhiri penderitaanku.”

Sultan segera mencari asal tangisan tersebut. Ia melihat sebuah ruangan yang ditutupi oleh sebuah tirai. Ketika sultan menyibakkan tirai tersebut, ia melihat seorang pria yang sedang duduk di sebuah singgasana yang sedikit melayang di atas lantai. Pria tersebut berwajah sangat tampan dan berpakaian sangat mewah. Namun wajahnya memperlihatkan kesedihannya. Sultan mendekatinya dan mengucapkan salam. Pria itu membungkukkan badannya tanpa bangkit dari tempat duduknya.
“Maafkan aku,” katanya. “Seharusnya aku berdiri dan menyambutmu. Tapi sebuah kekuatan yang menahanku membuatku tak berdaya.”
“Tidak apa-apa anak muda,” kata sultan. “Aku mendengar tangisanmu. Pasti ada sesuatu yang membuatmu begitu menderita. Aku ingin sekali membantumu. Tapi, pertama-tama maukah kau memberitahuku tentang danau yang di dalamnya terdapat empat macam ikan yang berbeda warna? Dan kenapa ada istana di tempat terpencil ini? Dan kenapa kau hidup sendiri di sini?”

Mendengar pertanyaan sultan, pria itu kembali menangis pilu.
“Kenapa kau menangis?” tanya sultan.
“Oh betapa buruk nasibku! Apa yang bisa aku lakukan selain menangis,” katanya sambil menyibakkan jubah yang menutupi kakinya.

Raja terkejut karena ternyata badan pria itu hanya dari pinggang ke atas yang bisa digerakkan sedangkan dari pinggang ke bawah adalah batu marmer hitam.
“Apa yang terjadi denganmu? Aku yakin kekuatan yang mengubahmu juga berkaitan dengan terjadinya danau yang muncul tiba-tiba itu, dan juga adanya ikan dengan empat macam warna itu. Maukah kau menceritakannya padaku?” tanya sultan.
“Aku akan menceritakannya. Tapi cerita ini mungkin akan sulit diterima oleh akal,” katanya.

Lalu ia pun memulai kisahnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s