2.4 Kisah Patih yang Dihukum

Standard

Serial Kisah Seorang Nelayan dan Jin (Bagian 4)

Raja yang diceritakan tersebut memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Raja menugaskan seorang Patih untuk menemaninya kemanapun ia pergi.

Suatu hari pangeran dan Patih pergi berburu ke hutan dengan ditemani serombongan kecil pengawal. Tiba-tiba seekor binatang buas muncul di hadapan mereka.

Patih berseru kepada pangeran, “kejar binatang itu!”
Maka pangeran mengejar binatang itu hingga tanpa ia sadari, ia telah terpisah dari rombongannya.

Binatang itu lari semakin cepat dan menghilang di tengah sabana. Saat itu barulah pangeran menyadari bahwa ia telah tersesat. Di tengah kebingungannya mencari jalan pulang, pangeran melihat seorang gadis yang sedang menangis.

Ia menghampirinya dan bertanya siapakah ia.
“Aku adalah seorang putri raja dari India. Saat melewati padang sabana ini, tiba-tiba aku mengantuk dan tertidur sehingga aku jatuh dari kudaku. Begitu kerasnya aku terjatuh, hingga aku langsung tak sadarkan diri. Saat aku siuman, para pendampingku telah pergi dan aku tertinggal di sini,” katanya.

Pangeran merasa iba mendengarnya. Ia lalu membawanya bersamanya. Beberapa saat kemudian saat mereka melewati sebuah reruntuhan, gadis itu berkata, “Oh tuan, ijinkanlah aku untuk turun sebentar.”
Pangeran membantunya turun dan gadis itu segera menuju ke arah reruntuhan tersebut. Pangeran menunggu beberapa saat namun gadis itu tidak kunjung kembali. Karena khawatir terjadi sesuatu dengannya, maka ia memutuskan untuk menyusulnya.

Ia terkejut karena ternyata gadis itu tidak lain adalah hantu pemakan manusia. Ia mendengarnya berkata, “anak-anakku, hari ini aku membawakan kalian seorang pemuda yang gemuk.”
“Bawa kemari segera, oh ibu. Kami sudah tidak sabar untuk memakannya,” kata hantu lainnya.

Pangeran gemetar ketakutan. Ia merasa dia tak akan sanggup melawan dan kali ini ia akan mati. Hantu wanita itu mendekati pangeran yang ketakutan.
“Mengapa kau ketakutan?” tanyanya.
“Aku memiliki musuh yang sangat aku takuti,” jawab pangeran.
“Bukankah kamu seorang pangeran?” tanyanya.
“Ya!”
“Kenapa tidak kau beri saja musuhmu itu uang, lalu berdamai dengannya?” tanyanya.
“Dia bukan tertarik pada uangku, yang ia inginkan hanyalah nyawaku! Aku ini adalah orang yang tak berdaya,” jawab pangeran.
“Kalau kau tidak berdaya, kenapa kau tidak berdoa kepada Alloh dan meminta pertolongan? Dia akan menolongmu menyingkirkan musuhmu itu!” katanya.

Pangeran segera menegadahkan tangannya dan berdoa, “Ya Alloh yang mengabulkan semua doa. Wahai Engkau yang dapat menghalau semua kajahatan, lindungilah aku. Dan jauhkanlah ia yang bermaksud buruk padaku. Karena hanya Engkaulah yang Maha Kuasa…”

Hantu itu tidak bisa lagi mendengar kelanjutan doa pangeran, karena sebuah kekuatan ghaib telah membuatnya menghilang dari hadapan pangeran. Maka pangeran pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan pulang ke kerajaannya. Ia melaporkan peristiwa yang dialaminya.
Lalu raja memerintahkan untuk memeberikan hukuman yang berat kepada Patih yang gagal melindungi putranya.

***********

“Tuanku,” kata Patih kepada raja Yunan. “Kalau kau percaya pada cerita ini, kau akan mengerti bahwa suatu saat Tabib itu akan mencelakakanmu. Maka jangan jadikan ia kepercayaanmu ataupun pendampingmu. Tuanku, jika dia bisa membuat obat yang bisa menyembuhkan paduka tanpa diminum ataupun dioles, maka dia pun bisa membunuh paduka hanya dengan menyuruh paduka mencium aroma,” katanya.
Raja tertegun dan berkata, “Yang kau katakana itu masuk akal wahai Wezirku. Mungkin saja Tabib Duban itu adalah mata-mata musuhku. Dan ia bisa saja membunuhku dengan mudah. Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Panggilah ia secepatnya, lalu bunuhlah. Ini untuk mencegah ia menjalankan rencananya menghancurkan paduka,” katanya.

Raja Yunan segera memberikan perintah untuk memanggil Tabib Duban. Sang Tabib datang dengan suka cita dan berkata:
“Semoga Alloh melindungi wahai Sultan. Janganlah kau memanggilku untuk mengucapkan rasa terima kasihmu lagi dan memberiku limpahan hadiah. Kini saatnya aku untuk memberikan baktiku. Katakanlah duhai Sultan, apa yang ingin kau perintahkan padaku?”
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu?” tanya raja.
“Tidak ada yang mengetahui kata yang belum terucap, selain ia dan Alloh!” katanya.
“Aku memanggilmu untuk menyerahkan nyawamu!” kata raja.
Tabib Duban tersentak kaget, “Apakah kesalahanku sehingga aku harus dihukum mati?”
“Ada yang mengatakan bahwa kau adalah mata-mata yang berencana membunuhku. Maka aku harus membunuhmu lebih dulu…” kata raja yang segera memanggil petugas eksekusi untuk memenggal kepala Tabib Duban.
“Ampuni aku,” kata Tabib Duban, “maka semoga Alloh akan mengampunimu. Jangan bunuh aku, maka semoga Alloh tidak akan mencelakakanmu!”

‘Ia mengatakannya berkali-kali seperti yang aku lakukan padamu wahai Ifrit, tapi kau tidak mau melepaskanku dan tetap ingin membunuhku,’ kata si nelayan kepada Ifrit.

“Aku tidak akan melepaskanmu karena aku takut kau nanti akan meracuniku. Yang bagimu merupakan sesuatu yang mudah, seperti kau dengan mudah menyembuhkanku,” kata raja Yunan.
“Oh inikah balasanmu atas kebaikanku?” tanya Tabib Duban.
“Aku harus membunuhmu secepatnya,” kata raja Yunan.

Tabib Duban merasa bahwa raja sudah bulat tekadnya, maka ia berkata, “Ijinkan aku mengajukan permohonan terakhir!”
“Baiklah!” kata raja.
“Inikah balasanmu atas kebaikanku? Kau memperlakukanku seperti balas budinya seekor buaya,” kata Tabib Duban.
“Buaya apa?” tanya raja.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu dengan kondisiku yang seperti ini. Tapi demi Alloh. Ampunilah aku dan semoga Alloh mengampunimu,” tangis Tabib Duban.

Seorang pejabat istana memberanikan diri berkata, “Oh raja yang bijaksana, tolonglah pikirkan lagi. Hamba berani bersaksi bahwa Tabib ini tidak pernah melakukan perbuatan untuk menghancurkanmu. Ia bahkan menyembuhkan penyakit yang tuan derita, sementara tabib lain tidak bisa melakukannya.”
“kau tidak tahu apa-apa,” kata raja. “Seperti yang kubilang. Dia bisa menyembuhkanku dengan mudah, maka ia pun dapat membunuhku dengan mudah. Aku hanya membela diriku!”

‘Kini, Oh Ifrit, Tabib itu tahu bahwa raja sudah bulat dengan keputusannya dan tidak ada jalan baginya untuk menyelamatkan diri.

“Tuan, kematianku sudah tidak bisa ditawar lagi, dan aku menerimanya sebagai takdirku!” kata Tabib Duban. “Tapi berilah aku sedikit kelonggaran waktu. Ijinkan aku untuk pulang ke rumah terlebih dahulu utnuk membereskan urusanku. Dan untuk berpamitan dengan keluargaku serta memberi mereka amanat. Juga untuk membereskan buku-buku pengobatanku terlebih dulu. Aku memiliki satu buku yang sangat istimewa. Aku akan menghadiahkannya untuk paduka.”
“Buku apa itu?” tanya raja.
“Buku itu berisi banyak hal rahasia yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Salah satunya adalah: jika nanti kepalaku telah dipenggal, dan kau meletakan kepalaku di sebuah tempat, kemudian membuka tiga halaman pertama buku itu dan membaca tiga baris pertamanya, kepalaku akan menjawab apapun yang kau tanyakan,” kata Tabib Duban.
Raja sangat senang mendengarnya, maka ia mengijinkan Tabib Duban untuk pulang ke rumahnya dengan pengawalan yang ketat.

Esoknya, kebun istana telah dipenuhi para pejabat termasuk seorang eksekutor yang akan memenggal kepala Tabib Duban.

Tabib Duban datang menghadap dengan membawa sebuah buku tua dan sekantung bubuk putih. Dia meminta sebuah baki lalu menaburkan bubuk itu di atasnya.

“Wahai raja, ambilah buku ini! Jangan kau buka dulu sebelum ekesekutor itu memenggal kepalaku. Segera letakkan kepalaku di atas baki ini. Bubuk ini akan menghentikan pendarahannya. Lalu bukalah buku ini!” katanya. “Tapi tuan, untuk terakhir kalinya aku katakan bahwa aku bukanlah seperti yang kau tuduhkan!”

“Sia-sia saja kau membela diri,” kata raja dan memerintahkan untuk segera mengeksekusi Tabib Duban.

Segera setelah kepala Tabib itu terpenggal, raja meletakannya di atas baki dan kemudian membuka lembar pertama buku tersebut. Tapi halaman tersebut ternyata lengket dengan halaman berikutnya. Maka raja menjilat jarinya sehingga dia bisa dengan mudah memisahkan halaman yang lengket tersebut. Raja terus membuka halaman demi halaman, namun tidak ada satu kalimat pun yang tertulis di lembarannya.

“Kenapa tidak ada apapun disini,” tanya raja kepada kepala Tabib .

“Bukalah terus halamannya,” kata kepala Tabib .

Raja membuka kembali halaman berikutnya dan terus menjilat jarinya untuk memisahkan halaman demi halaman. Tanpa disadarinya, raja telah menjilat racun yang dengan sengaja dibubuhkan Tabib Duban di buku tersebut. Semakin banyak halaman yang terbuka, semakin banyak racun yang diisapnya. Dan ketika racun itu bereaksi raja merasa bahwa kepalanya menjadi berat.

“Penguasa!” kata kepala Tabib Duban. “Waspadalah saat kau menggunakan kekuasaanmu untuk menganiaya orang tak berdosa! Cepat atau lambat, Alloh akan menghukummu atas ketidakadilanmu dan kejahatanmu!”

Raja menjerit hebat sesaat sebelum kepalanya terkulai dan ia pun tewas.

————-

“Tuanku,” kata Sheharazade, “Marilah kita kembali pada cerita nelayan yang akan melemparkan jin Ifrit kembali ke tengah laut.”

————-

“Nah Ifrit,” kata nelayan, “seandainya raja Yunan membebaskan guru Duban, mungkin Alloh juga tidak akan menghukumnya. Tapi ia menolak, dan kematianlah yang ia terima. Dan kau Ifrit, karena kau juga melakukan hal yang sama dengan raja Yunan, maka aku juga akan melakukan hal yang sama dengan guru Duban. Aku akan melelmparkanmu kembali ke laut.”
Ifrit menangis mendengar perkataan si nelayan, “Wahai nelayan, sekali lagi maafkan aku atas perbuatanku. Jangan membalas dendam, Sesungguhnya itu bukan bagian dari kebaikan hati. Tolong bebaskan aku, aku berjanji tidak akan menyakitimu!”

“Tidak!” kata nelayan.
“Aku akan membuatmu kaya seumur hidupmu,” kata jin.

Keinginannya untuk keluar dari kemiskinan membuat hati nelayan itu tergerak.
“Baiklah! Bersumpahlah kau atas nama Alloh yang Maha Kuasa bahwa kau tidak akan menyakitiku dan mengingkari ucapanmu!” kata nelayan.
Jin Ifrit mengucapkan sumpahnya, maka nelayan membuka penutup botolnya. Jin Ifrit keluar dari botol tersebut dan cepat-cepat melemparkan botol yang dipegang nelayan ke tengah laut, membuat si nelayan ketakutan.
Jin tertawa dan berkata, “Jangan khawatir! Aku tidak akan mengingkari janjiku. Sekarang ikutilah aku!”

Nelayan berjalan mengikuti jin hingga mereka tiba di sebuah danau yang luas dan jin itu berkata, “Lemparkan jalamu!”
Nelayan itu melihat banyak sekali ikan dengan berbagai warna: putih, merah, biru dan kuning. Ia melemparkan jalanya dan sangat yakin bahwa ia akan mendapatkan banyak sekali ikan yang terperangkap di jalanya. Tapi ternyata hanya empat ekor ikan dengan warna yang berbeda yang tertangkap.
“Bawa ikan ini ke istana dan persembahkan pada Sultan!” kata jin. “Dia akan memberimu uang yang banyak. Kau boleh datang ke sini setiap hari, tapi ingat! Kau hanya boleh melemparkan jalamu sekali sehari atau sesuatu yang buruk akan menimpamu!”
Setelah mengucapkan itu, Jin menghentakan kakinya ke tanah hingga terbelah. Sedetik kemudian tubuhnya menghilang ditelan bumi.

Nelayan membawa ikan itu pulang ke rumahnya dan menaruh mereka di dalam ember berisi air. Lalu ia membawanya ke hadapan Sultan. Sultan sangat senang dengan ikan pemberian nelayan karena baru pertama kali dalam hidupnya ia melihat ikan-ikan yang begitu cantik.
“Wah, ikan ini indah sekali! Kelihatannya sangat lezat. Terima kasih nelayan. Ini, terimalah hadiahmu!” kata sultan sambil memberikan empat ribu keping uang emas kepada nelayan.
Betapa bahagianya nelayan. Kini ia bisa membeli kebutuhan keluarganya.

“Wezir, bawa ikan ini kepada juru masak kita yang baru didatangkan dari Yunani itu! Ikan-ikan ini pasti selezat kecantikannya,” perintah sultan.
Wezir membawa ikan itu ke dapur dan menyerahkannya kepada juru masak supaya disiapkan untuk makan malam sultan.

“Kini tuanku,” kata Sheherazade. “Mari kita lihat apa yang terjadi di dapur istana.”

************

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s