2.2 Kisah Raja Yunani dan Tabib Duban

Standard

‘Dengarlah wahai Ifrit, dahulu kala di sebuah negeri benama Zouman di daratan Persia ada seorang raja bernama raja Yunani. Beliau sangat kaya raya dan terkenal dengan keberaniannya. Sayang dia menderita penyakit kusta yang tidak kunjung sembuh. Puluhan tabib telah dipanggilnya, namun tidak ada satu obat pun yang bisa menghilangkan kusta dari tubuhnya.

Suatu hari datanglah di negeri itu seorang Tabib bernama Duban. Dia sudah mendalami berbagai ilmu dari Yunani kuno sampai Yunani modern, dari Persia hingga syiria. Dia ahli dalam pengobatan maupun astrologi. Keahliannya membuat kagum tabib-tabib lainnya dan juga para ilmuwan.
Ketika Tabib Duban mendengar tentang penyakit yang diderita raja Yunani, dia bermaksud untuk mencoba mengobatinya. Maka dipelajarilah kembali berbagai buku untuk mencari obat yang paling manjur.

Esoknya dia menghadap raja Yunani. Setelah memberikan penghormatan, disampaikanlah maksud kedatangannya yaitu untuk mengobati penyakit kusta raja.
“Tuanku, saya dengar bahwa belum ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkan penyakit paduka. Jika paduka mengijinkan InsyaAlloh saya bisa menyembuhkannya tanpa obat ataupun salep!” katanya.
“Bagaimana caranya? Demi Alloh, jika kamu bisa menyembuhkanku, aku akan memberikan apapun yang kau mau Harta yang banyak untukmu dan anak cucumu, dan kamu akan kujadikan penasihat dan sahabat terbaikku” kata raja
“InsyaAlloh saya bisa menyembuhkan paduka. Besok saya akan mulai pengobatannya,” kata tabib Duban. Kemudian ia memohon diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Tabib Duban kemudian membuat sebuah stik golf yang diberi lubang di pegangannya. Di lubang itulah tabib Duban memasukan obat racikannya. Kemudian ia juga membuat sebuah bola sebagai pelengkapnya.

Keesokan harinya Tabib Duban kembali menghadap raja. Dia mengajak raja ke lapangan istana. Kemudian memberi raja stik golf buatannya dan sebuah bola. Dimintanya raja untuk memukul bola tersebut sambil menunggang kuda.
“Pukullah bolanya dengan sekuat tenaga. Saat badan paduka berkeringat, maka panas tubuh bafinda akan membuat obat yang ada di dalam stik golf ini ke seluruh tubuh paduka. Setelah itu paduka boleh kembali ke istana untuk mandi air hangat. Pastikan untuk menggosok tubuh paduka hingga bersih. Lalu istirahatlah. InsyaAlloh besok penyakit baginda akan sembuh,” katanya.
Raja Yunani lalu melakukan semua saran Tabib Duban.

Ketika raja terbangun keesokan paginya, dia melihat bahwa kulitnya telah halus. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah menderita kusta. Kulitnya putih bersih tanpa noda.
Raja sangat bersuka cita. Dia segera memerintahkan utusan untuk menjemput tabib Duban ke istana. Sambil berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya, raja memberikan berkantung-kantung emas, lusinan pakaian-pakaian mewah dan hadiah-hadiah lainnya. Sesuai janjinya raja juga mengangkat Tabib Duban menjadi penasihat pribadinya dan mendudukannya di samping singgasananya.

Di antara pejabat kerajaan, ada seorang Wezir yang menaruh benci terhadap tabib Duban. Dia cemburu dengan semua perhatian dan kebaikan raja terhadap Tabib Duban.
Suatu hari sang Wazir menghadap raja secara pribadi.
“Wahai paduka raja yang adil, hambamu ini ingin menyampaikan sebuah nasihat untuk paduka. Saya akan menjadi orang terkutuk jika tidak menyampaikannya pada paduka,” katanya.
Raja terkejut mendengarnya dan bertanya, “nasihat apa?”
“Oh paduka yang mulia. Para leluhur pernah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak bisa melihat tujuan, keberuntungan tidak akan datang padanya. Dan kini saya melihat raja sedang membuat kekeliruan. Sejak ia menganugerahi seorang musuh dengan kebaikan. Seorang musuh yang menginginkan kerajaan ini hancur. Dia menganugerahinya kebaikan, kekuasaan dan menjadikannya penasihatnya,” katanya.
“Siapakah teman yang kau maksud itu?” tanya raja.
“Paduka, tentu saja yang saya maksud adalah penasihat paduka, Tabib Duban!” kata wazir.
“Dia adalah teman terbaikku,” kata raja. “Dan dialah yang telah menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib lain. Karena dialah aku bisa menyingkirkan rasa malu yang dulu menderaku karena penyakitku. Aku tidak akan menemukan orang sehebat dia di seluruh negeri. Tapi kenapa kau menentangnya? Aku telah memerintahkan pegawaiku, untuk memberikannya gaji 1000 keping emas setiap bulannya, dan bahkan jika aku memberikan sebagian kerajaanku padanya, masih tidak akan cukup mewakili rasa terima kasihku.”
“Oh tuanku, bagaimana kau yakin bahwa dia tidak menipumu? Sesungguhnya aku mengatakan hal ini karena rasa baktiku padamu,” kata Wezir.
“Benarkah tidak ada maksud lain dari perkataanmu ini wahai Wezir? Aku takut kau melakukan ini karena rasa cemburu. Jika aku mengikuti nasihatmu, aku takut aku akan menyesal seperti seorang suami yang membunuh burung kakak tuanya. Aku akan menceritakan kisahnya padamu.” Kata raja.

Maka oh Ifrit, raja pun memulai ceritanya…

——-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s