2.6 Kisah Raja Muda dari Pulau Hitam

Standard

“Ayahku adalah raja negeri ini. Kerajaan Pulau Hitam, begitulah kami menyebutnya karena negeri kami terletak di antara empat gunung dan ibukotanya terletak di tempat danau itu berada sekarang. Aku akan ceritakan kenapa kota yang dulu megah dan ramai kini berubah menjadi sebuah danau.

Ayahku bernama Mahmud. Setelah berkuasa selama 70 tahun, ayahku meninggal. Sebagai putra mahkota, aku menggantikannya memimpin kerajaan. Kemudian aku menikah dengan sepupuku yang sangat mencintaiku. Aku begitu bahagia dengan pengabdiannya dan cintanya padaku. Aku pun begitu mencintainya. Kami hidup bahagia. Namun setelah lima tahun bersama, aku mulai menyadari bahwa istriku sudah tidak mencintaiku lagi.

Suatu hari setelah makan malam, aku membaringkan tubuhku yang penat di atas bangku panjang sementara istriku pergi mandi. Aku sudah setengah tertidur saat itu. Dua orang dayang mengipasi tubuhku. Satu orang duduk di dekat kepalaku dan satu orang lagi duduk di dekat kakiku. Menyangka aku telah tertidur, keduanya berbincang-bincang dengan suara berbisik.
“Oh kasihan sekali tuan kita ini! Sungguh tidak beruntung memiliki istri yang tidak setia, padahal tuan begitu memujanya,” kata dayang yang duduk di dekat kepalaku.
“Ya. Dan aku tidak habis pikir kenapa tuan kita sampai tidak tahu istrinya pergi meninggalkannya setiap malam,” jawab yang lain.
“Bagaimana mungkin ia tahu,” kata dayang pertama. “Setiap malam ia akan memberi Tuan kita segelas jus yang telah dicampur ramu-ramuan. Jus itu akan membuat Tuan tertidur pulas sepanjang malam sehingga ia bebas pergi kemanapun ia suka. Esoknya ia akan menaruh parfum khusus di hidung Tuan untuk membangunkannya.”

Coba bayangkan apa yang kurasakan saat mendengarnya. Tapi aku mencoba menahan diri dan berpura-pura baru terbangun dari tidurku. Kedua dayang itu pasti menyangka aku tidak mendengar apapun.

Beberapa saat kemudian istriku kembali dari kamar mandi. Seperti biasa ia memberiku segelas jus yang di malam-malam sebelumnya selalu aku minum dengan senang. Tapi kali ini aku membuang isinya tanpa sepengetahuan istriku. Kemudian aku berpura-pura tertidur. Istriku yang menyangka aku telas pulas karena ramuannya, kembali bangun dari ranjang.
“Tidurlah! Dan kuharap kau tidak akan terbangun lagi selamanya,” teriaknya. Kemudian ia mempercantik dirinya dan segera meninggalkan kamar.

Segera setelah ia pergi, aku bangkit dan mengikutinya. Aku membawa pedangku untuk berjaga-jaga. Istriku berjalan dengan sangat cepat, melewati pintu-pintu istana yang terbuka dengan kekuatan sihir yang ia gumamkan. Ia terus berjalan melewati kota menuju pintu gerbang kota. Pintu itu dikunci dengan sebuah gembok yang kuat yang bisa ia buka dengan menggumamkan mantranya. Ia mengikuti jalan setapak yang menuju ke sebuah hutan kecil. Dan agak jauh di dalam hutan itu ada sebuah bangunan berbentuk kubah yang terbuat dari tanah. Istriku masuk ke dalam kubah tersebut sementara aku naik ke atapnya dan mengintip melalui celah-celahnya. Di dalamnya ada seorang budak hitam yang jelek berbibir tebal. Budak itu berbaring di atas tanah berdebu dengan hanya beralaskan daun-daun tebu kering.

Istriku menghampiri budak itu dan berkata, “Duhai cintaku, pemilik hatiku. Tahukah kau bahwa aku sangat menderita. Aku membenci suamiku dan aku tidak suka hidup bersamanya. Jika bukan karena aku takut kehilanganmu, aku pasti sudah menghancurkan negeri ini menjadi puing hingga tidak ada kehidupan yang tersisa kecuali serigala dan burung hantu. Dan kulemparkan semua batu-batu yang membangun dinding-dinding istana ini ke bawah gunung atau ke tempat jauh di luar peradaban.”
“Kamu wanita pembohong. Kau hanya ingin bersamaku demi kesenanganmu. Aku tidak mau bersamamu lagi. Kau wanita jalang!” kata budak hitam.
“Oh cintaku. Hanya engkau yang ada di hatiku. Jika kau mengusirku…alangkah sengsaranya aku!” tangis istriku.

Bayangkan betapa aku marah melihat semua ini!” kata Raja muda. “Maka aku diam-diam mendekati budak hitam itu saat mereka telah tertidur. Lalu aku menusuk lehernya dengan pedangku. Ia langsung terkulai dan aku menyangka bahwa ia telah mati. Kemudian aku meninggalkan mereka dengan hati puas dan kembali ke istana.

——-

Esoknya kulihat istriku memotong pendek rambutnya dan memakai baju duka.
“Wahai suamiku, jangan kaget melihat penampilanku,” katanya. “Aku baru saja menerima tiga kabar yang membuatku begitu berduka.”
“Kabar apa?” tanyaku.
“Pertama adalah kematian ibuku. Kedua bahwa ayahku telah terbunuh dalam peperangan dan ketiga bahwa adikku telah tewas karena terjatuh ke dalam jurang. Maka biarkan aku menangisi kepergian mereka,” kata istriku.
Aku tahu bahwa ia sebenarnya berduka karena kekasihnya tapi aku pura-pura tidak tahu dan berkata, “lakukanlah apa yang menurutmu baik. Aku tidak akan melarangmu!”

Ia menangis dan berduka selama satu tahun. Kemudian ia meminta ijin padaku untuk membangun sebuah kuburan yang indah dan aku mengijinkannya. Ia lalu membangun sebuah bangunan besar di tengah istana dengan kubah di atasnya dan menyebut tempat itu sebagai Istana Air Mata.

Ketika istana miliknya telah selesai, ia membawa tubuh kekasihnya ke dalamnya. Istriku ternyata menghidupkannya lagi dengan kekuatan sihir yang ia miliki, namun budak itu tidak bisa kembali seperti sedia kala. Ia hanya bisa membuka matanya tapi tidak bisa menggerakkan badannya. Pendek kata ia tidak hidup dan juga tidak mati. Istriku memberi budak itu semacam obat sehingga ia tetap hidup hingga saat ini. Setiap hari istriku pergi mengunjunginya sebanyak dua kali untuk melantunkan pujian-pujian cintanya kepada budak itu. Aku tetap pura-pura mengacuhkannya. Hingga ketika dua tahun berlalu aku mulai kehilangan kesabaranku. Aku lalu pergi ke dalam istananya dan mendengarnya berkata, “Oh betapa berat melihatmu seperti ini wahai kekasih. Seandainya aku bisa memikul sebagian penderitaanmu. Duhai kekasih, ucapkanlah sepatah kata dan aku akan bahagia. Aduh, aku bersedia menukar kebahagiaanku asal aku bisa melihatmu kembali hidup.”

Aku tidak dapat menahan kemarahanku. Aku mendekatinya dan berkata, “Cukup! Sudah saatnya kau menghentikan semua tangisan yang memalukan ini!”
“Suamiku, jika kau masih menghargaiku, aku minta biarkan aku dalam kesedihanku hingga waktu menyembuhkannya,” kata istriku.
Kemarahanku memuncak sehingga aku berkata, “Itu adalah ucapan seorang istri yang mengkhianati suaminya. Kenapa kau tidak mati saja bersama kekasihmu itu!”
Istriku segera menyadari bahwa akulah yang telah menikam kekasihnya. Ia segera bangkit dan memandangku dengan penuh kebencian.
“Ternyata engkaulah yang telah membuatku menderita. Ternyata tanganmulah yang telah membuat kekasihku menjadi seperti ini. Jadi kau datang kesini hanya untuk menertawakan kesedihanku?” ucapnya marah.
“Ya! Akulah yang menikamnya. Dan kau pun pantas mendapatkan perlakuan yang sama!” ucapku tak kalah marah.
Aku segera menghunus pedangku dan siap menikamnya. Tapi istriku mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti.
Lalu dengan tersenyum ia berkata, “Dengan kekuatan shirku, jadilah kau setengah batu dan setengah manusia!”

Sejak itulah tuan,” kata Raja muda itu. “Aku menjadi seperti ini. Hidup tidak, matipun tidak.

Segera setelah menyihirku, ia memindahkanku ke ruangan ini. Ia menyihir seluruh kerajaan. Seluruh kota diubahnya menjadi sebuah danau. Penduduk kerajaanku terdiri dari empat macam golongan yaitu Muslim, Kristen, Yahudi dan Penyembah Api. Ia mengubah mereka menjadi empat jenis ikan. Putih untuk Muslim, merah untuk Penyembah api, biru untuk Kristen dan kuning untuk Yahudi. Dia juga menyihir empat pulau menjadi empat buah bukit dan menempatkannya di sekeliling danau. Dan sejak itu ia akan mendatangiku setiap hari untuk menyiksaku. Ia akan memberiku ratusan kali cambukan hingga seluruh tubuhku penuh dengan darah. Setelah puas, ia akan menyelimutiku dengan baju dari kulit kambing yang berbulu dan membuat seluruh kulitku gatal. Dan kemudian memakaikan baju kebesaranku di atasnya, bukan untuk menghormatiku, tapi semata-mata untuk menghina penderitaanku. Oh ya Alloh berilah aku kesabaran untuk menerima cobaanmu. Aku akan bersabar hingga mendapat pertolongan-Mu!” kata Raja muda itu sambil menangis.

Sultan sangat tersentuh mendengar cerita tersebut. Ia bertekad untuk menolongnya dan membalas kekejaman istri raja muda itu.
“Katakanlah! Dimana aku bisa menemukan wanita penyihir itu,” tanya Sultan.
“Tuanku, Ia pasti sedang berada di dalam Istana Air Mata yang ia bangun. Sebuah bangunan dengan kubah di atasnya. Ia akan mengunjungi tempat itu setiap pagi setelah menyiksaku, untuk memberinya ramuan obat yang membuatnya tetap hidup.”
“Demi Alloh! Aku akan menolongmu sehingga Alloh mencatatnya sebagai kebaikan,” kata Sultan.

——-

Sultan menunggui Raja Muda itu hingga waktu subuh datang. Setelah itu ia bangkit, melepaskan mantelnya dan menyiapkan pedangnya. Lalu pergi ke Istana Air Mata. Puluhan lilin menyinari ruangan itu dan aroma parfum yang semerbak hampir membuat Sultan kehilangan kesadaran. Akhirnya ia menemukan budak itu terbaring di sebuah dipan. Ia segera membopongnya dan melemparkannya ke dalam sumur hingga ia tewas. Sultan mengambil alih tempat budak tersebut dan menyelimuti dirinya dengan selembar kain untuk meyembunyikan pedangnya.

Ratu datang beberapa saat kemudian setelah ia memberikan seribu cambukan kepada suaminya yang malang.
“Aduh, nsib buruk apa yang telah memisahkanku dengan cintaku?” ratapnya.
“Oh pangeranku!” katanya kepada Sultan yang ia sangka sebagai kekasihnya. “Bicaralah padaku meski hanya sekali! Katakan bahwa kau mencintaiku seperti yang sering kau ucapkan dulu. Maka aku akan merasa bahagia.”
Sultan dengan menirukan dialek orang negro menjawab lirih, “Tiada kekuatan kecuali atas izin Alloh swt.”
Wanita itu menjerit gembira. “Oh kekasihku…benarkah engkau yang berbicara?”
“Perempuan jahat! Kautidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun!” kata Sultan.
“Apa? Kau menyakiti hatiku?” tangisnya.
“Setiap hari, teriakan-tangisan dan keluhan suamimu yang kau siksa dengan kejam mengganggu tidurku. Aku pasti bisa sembuh lebih cepat jika kau tidak menyihirnya. Itulah penyebab kebisuanku selama ini,” kata Sultan.
“Kalau begitu, kau ingin aku mengubahnya kembali menjadi manusia?” tanyanya.
“Ya! Dan suruh ia pergi dari sini sehingga teriakannya tidak lagi menggangguku!” kata Sultan.

Ratu segera berlari menuju ruangan tempat ia menyihir suaminya. Diambilnya segelas air yang telah ia bacakan mantra.
“Jika Sang Maha Pencipta telah menggariskan bentukmu yang sekarang sebagai takdirmu maka jangan berubah. Tapi jika kau seperti ini karena mantra yang kuucapkan maka berubahlah ke bentuk aslimu! ” katanya sambil melemparkan air mantranya.
Dalam sekejap raja muda tersebut bisa bangkit dari tempat duduknya. Ia mengucap syukur kepada Alloh atas pertolongan-Nya.
“Cepat pergi!” kata istrinya. “Dan jangan pernah kembali lagi!”
Raja muda berpura-pura pergi, padahal sebenarnya ia bersembunyi dan menunggu hasil rencana Sultan.

Ratu kembali ke tempat Sultan berada dengan kegembiraan yang tepancar di wajahnya.
“Aku telah melaksanakan perintahmu. Bangkitlah cintaku, sehingga aku bisa menggenggam tanganmu!” katanya.
“Aku tidak bisa sebelum kau melakukan satu hal lagi yang merupakan akar masalah dari penyakitku ini,” kata Sultan.
“Apakah itu? Katakanlah! Aku akan segera melakukannya,” kata wanita itu.
“Bagaimana mungkin kau tidak tahu,” teriak Sultan. “Setiap malam, warga kota yang telah kau sihir menjadi ikan menengadahkan kepalanya ke atas langit dan mendoakan kesialan bagi kita. Itulah yang membuat kesembuhanku berjalan lambat. Sekarang pergilah dan kembalikan keadaan negeri ini seperti semula. Setelah semua selesai, kau bisa mengenggam tanganku dan membantuku bangkit!”

——-

“Kau pasti segera sembuh kekasihku. Karena sekarang juga, aku akan pergi untuk menghapuskan sihirku dan mengembalikan seluruh kerajaan seperti sedia kala,” katanya dengan semangat. Ratu bergegas pergi ke tempat danau ciptaannya. Ia menciduk air danau itu dengan tangannya dan mengucapkan mantra penghapus sihirnya. Sekejap kemudian danau itu berubah menjadi kota yang ramai. Ikan-ikan yang beraneka warna kembali menjadi warga kota. Para pengawal Sultan yang kemarin berkemah di pinggir danau terkejut saat tiba-tiba mereka berada di tengah-tengah kota.

Ratu yang telah kembali ke Istana Air Mata dan segera menemui Sultan yang masih berpura-pura sebagia kekasihnya.
“Kekasihku, aku telah melakukan tugasku. Kini bangkitlah dan sambutlah tanganku!” katanya.
“Mendekatlah!” kata Sultan.
Ratu segera mendekati Sultan. Lalu sebelum Ratu dapat melihat wajah orang yang berbaring di atas ranjang itu, dengan sangat cepat Sultan memegang tangan Ratu dan menusukkan pedangnya hingga ia tewas.
“Kini kau tidak bisa lagi berbuat kejahatan di bumi ini,” kata Sultan.

Sultan segera menemui Raja muda yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keberhasilan rencana Sultan. Ia begitu gembira saat melihat Sultan keluar dari Istana Air Mata dengan selamat.
“Gembiralah sahabatku! Karena kini penyihir itu telah binasa,” kata Sultan.

Raja muda sangat berterima kasih atas pertolongan Sultan dan memintanya untuk tinggal lebih lama namun Sultan menolaknya.
“Semoga kau hidup bahagia di kerajaanmu,” kata Sultan. “Mampirlah kapan-kapan ke istanaku karena kerajaanmu dan kerajaanku jaraknya tidaklah terlalu jauh.”
“Sultan yang agung, apakah anda mengira bahwa letak kerajaan kita berdekatan?” tanya Raja muda.
“Tentu saja. Paling lama empat atau lima jam perjalanan,” jawab Sultan.
“Tidak, Sultan yang agung. Itu karena anda datang ke sini di saat kerajaan ini masih terpengaruh sihir. Tapi karena kini semua telah kembali normal, maka sebenarnya letak kerajaan kita sangatlah berjauhan. Paling tidak satu tahun waktu yang harus dihabiskan untuk sampai ke kerajaanmu. Dan aku memutuskan untuk menemani perjalananmu. Aku akan menyerahkan tahtaku kepada saudaraku. Inilah mungkin kesempatanku untuk membalas kebaikanmu,” kata Raja muda.

Sultan sangat terkejut saat mengetahui bahwa ia telah pergi begitu jauh dari kerajaannya.
“Tidak masalah,” kata Sultan. “Perjalanan panjang yang akan aku lalui pasti tidak akan terasa berat dengan adanya kau bersamaku. Aku akan mengangkatmu sebagai anakku dan menjadikanmu pewaris tahtaku karena aku tidak memiliki seorang anak pun,” kata Sultan.
Pernyataan Sultan disambut dengan pelukan hangat dari Raja muda tersebut.
Tiga minggu kemudian, semua persiapan untuk perjalanan panjang tersebut telah siap. Semua pejabat istana dan warga kota melepas kepergian raja mereka dengan penuh haru.

Perjalanan panjang mereka tempuh tanpa kesulitan yang berarti. Sultan dan para pengikutnya disambut hangat dan suka cita di kerajaannya. Esoknya Sultan mengumumkan keputusannya untuk mengangkat Raja Pulau Hitam sebagai anaknya dan penerus tahtanya.
Sebagai ucapan terima kasih kepada nelayan yang secara tidak sengaja menyebabkan kisah ini terjadi, Sultan menganugerahkan penghargaannya dengan menjadikan mereka keluarga bangsawan hingga ia dan keluarganya hidup berkecukupan hingga akhir hayatnya.

“Tapi tuanku, kisah tentang seorang kuli panggul di pelabuhan jauh lebih menarik daripada kisah-kisah yang telah kuceritakan,” kata Sheherazade.
“Ada apa dengannya?” tanya Raja Syahriar.
“Begini kisahnya………”

——-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s