1.3 Kisah Syekh Kedua dan 2 Ekor Anjing Hitam

Standard

Wahai raja semua jin, ketahuilah bahwa aku dan kedua anjing ini adalah tiga bersaudara. Ketika ayah kami meninggal, dia mewariskan 3000 keping emas untuk kami bertiga.Dengan modal warisan itu, kami masing-masing membuka sebuah toko.
Illustration
Kakakku yang pertama memutuskan untuk pergi berdagang ke luar negeri.Maka ia pun menjual tokonya lalu membeli berbagai barang yang akan ia jual di berbagai negeri. Aku tidak pernah mendengar kabar darinya selama setahun. Suatu hari datang seorang pengemis di depan rumahku, “Assalamu’alikum,” sapaku.
“Wa alaikum salam,” jawabnya. “Apakah kau tidak mengenaliku?” tanyanya.
Aku memperhatikannya dengan seksama, dan kemudian aku menyadari bahwa pengemis di hadapanku adalah kakak tertuaku.
“Kakak,” seruku. Aku memeluknya dengan gembira. “Bagaimana aku bisa mengenalimu dengan keadaan seperti ini,” kataku. Aku segera menyuruhnya masuk, menanyakan kabarnya dan perkembangan bisnisnya.
“Jangan tanyakan itu,” katanya, “Mengingat betapa buruk nasibku hingga menjadi seperti ini, hanya akan membuatku semakin sedih saja.”
Aku segera menutup tokoku, mengesampingkan semua urusanku, menyuruh kakakku mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian terbaikku. Kemudian mengajaknya makan sehingga wajahnya tidak lagi pucat dan tubuhnya kembali kuat. Aku kemudian mengeluarkan semua tabunganku dan menghitungnya. Ternyata kini keuntunganku sudah dua kali lipat dari modalku. Aku berikan separuh keuntunganku kepada kakakku, “Ini kak, pakailah untuk modal, dan lupakan kesedihanmu!”
Kakakku sangat gembira. Ia kembali membuka tokonya dan kami pun hidup bersama seperti dulu lagi.
Beberapa waktu kemudian, saudaraku yang lain juga bermaksud untuk pergi berdagang ke luar negri. Aku dan kakak tertuaku berusaha sebisa mungkin mencegahnya, tapi sepertinya kakak keduaku sudah bulat tekadnya. Maka ia pun menjual tokonya, dan dari hasil penjualannya, ia membeli berbagai barang yang akan ia jual di negeri yang disinggahinya. Ia berangkat dengan menggunakan caravan. Namun setahun kemudian ia pun pulang dalam keadaan bangkrut. Aku lalu menghiburnya, dan karena keuntunganku sudah menjadi dua kali lipat, aku membaginya sma rata dan memberikannya pada kakak keduaku. Dia membuka tokonya kembali dan kami pun hidup bersama seperti dulu lagi.
Suatu hari kedua saudaraku datang dan mendesakku untuk pergi bersama mereka, berdagang ke luar negeri, namun aku menolak. “Kalian sudah pernah melakukannya, tapi apa yang kalian dapatkan dari perjalanan kalian? Siapa yang bisa menjamin bahwa kali ini kita akan beruntung?” kataku. Kedua kakakku terus saja mendesakku, hingga akhirnya setelah lima tahun berdebat, aku setuju untuk pergi berdagang ke luar negeri.
Kedua saudaraku telah menghabiskan uang yang aku berikan pada mereka, tapi aku tidak mau mengungkitnya. Tapi dalam waktu enam tahun itu aku telah mengumpulkan keuntungan sebesar 6000 keping emas. Lalu kataku pada mereka: “Kita hanya boleh meresikokan sebagian dari keuntungan ini, yaitu 3000 keping emas yang akan aku berikan kepada kalian masing-masing 1000 keping emas.Dan kita akan mengubur sisanya di tempat yang aman, untuk berjaga-jaga jika kita tidak beruntung.”
Kami segera membeli barang-barang dagangan masing-masing yang akan kita jual nantinya. Beberapa hari kemudian dengan menyewa sebuah kapal, kami bertiga memuat barang dagangan kami dan mulai berlayar. Setelah perjalanan panjang akhirnya kami tiba di sebuah negeri. Disana kami menjual barang dagangan kami dan memperoleh untung besar. Aku sendiri, memperoleh keuntungan 10 kali lipat. Kami lalu membeli barang-barang bagus di negeri itu untuk kami jual lagi di negeri kami.
Lalu saat memutuskan untuk pulang, secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang gadis yang meski pakaiannya sangat sederhana tapi terlihat sangat cantik. Dia menghampiriku dan mencium tanganku, memohon padaku untuk mengajaknya serta dan menjadikannya istriku. Aku kesulitan untuk meolaknya. Tapi setelah ia meyakinkanku bahwa aku akan senang dengan kehadirannya. Maka aku mendandaninya dan menjadikannya istriku. Aku membuatkan kamar khusus untuknya di kapal, dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Selama perjalanan aku melihat bahwa istriku memiliki banyak keistimewaan, yang membuatku semakin mencintainya setiap hari. Kedua kakakku yang tidak memperoleh keuntungan sebesar aku, merasa iri dengan semua yang aku peroleh. Bahkan mereka berencana untuk membunuhku. Suatu malam saat aku dan istriku sedang tidur, mereka melemparkan aku dan istriku ke tengah laut.
Istriku, ternyata adalah jin yang memiliki kekuatan sihir. Dia menyelamatkanku dari amukan ombak dan membawaku terbang ke sebuah pulau. Esoknya dia berkata padaku, ‘Aku adalah istrimu yang atas ijin Alloh telah menyelamatkamu dari kematian. Meski aku ini jin, tapi aku benar-benar mencintaimu karena Alloh. Kaulah satu-satunya pria yang memperlakukanku dengan baik meski aku berpenampilan buruk. Tapi aku tidak menyukai kedua saudaramu yang telah mengkhianatimu. Mereka pantas dibunuh.’
Aku mendengarkan kisahnya dengan takjub dan berterima kasih atas pertolongannya.
“Tetapi istriku, aku mohon maafkanlah saudaraku!” kataku. Lalu aku ceritakan padanya apa yang pernah aku lakukan pada kedua kakakku, tapi hal itu semakin membuatnya marah.
“Aku harus segera menghukum manusia-manusia jahat ini. Akan kurusak kapalnya, dan kutenggelamkan mereka ke dasar lau!” teriaknya.
“Jangan,” pintaku. “Aku mohon, mereka masih saudaraku, dan bukankah membalas kejahatan dengan kejahatan berarti kita juga termasuk orang yang jahat?”
Rupanya kata-kataku mengena di hatinya.Akhirnya dia mengangkatku, dan dalam sekejap aku telah tiba di depan rumahku. Aku memutuskan untuk menggali harta karunku, lalu kembali membuka toko kelontongku. Para tetanggaku mengucapkan suka citanya karena aku telah tiba dengan selamat.
Malam berikutnya ketika aku membuka pintu rumahku, aku melihat dua ekor anjing hitam ini. Mereka berlari ke arahku, melolong, membuat hatiku iba. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai istriku berkata: ‘Suamiku kedua anjing itu adalah saudaramu.’
Aku merasakan darahku menjadi dingin. ‘Siapa yang telah membuatnya menjadi seperti ini?’ tanyaku.
‘Seharusnya aku. Tapi aku menyuruh saudaraku untuk menyihirnya. Dia juga menenggelamkan kapalnya. Tapi aku membiarkan mereka berdua hidup. Mereka akan tetap menjadi anjing selama 10 tahun, sebagai hukuman atas perbuatannya’ katanya. Dan setelah ia memberitahukan kemana aku harus mencarinya, ia pun menghilang.
Sekarang sudah sepuluh tahun kami menunggu, dan kini aku sedang dalam perjalanan menuju tempat saudara istriku. Aku ingin agar dia mengembalikan kedua saudaraku ke wujud aslinya. Dan dalam perjalananku itulah aku bertemu dengan saudagar, dan pria yang membawa rusa ini. Nah raja semua jin, Jika menurutmu ceritaku lebih menarik daripada cerita saudagar dan rusa ini, maka kurangilah sepertiga hukumannya,” kata syekh kedua mengakhiri ceritanya.
“Ya, cerita yang sangat menarik,” kata jin Ifrit. Maka dia pun mengurangi sepertiga hukumannya.
Kini syekh yang ketiga berkata kepada jin, “aku juga memiliki cerita untukmu, dan jika ceritaku juga lebih menarik daripada cerita mereka, kau harus berjanji untuk mengurangi sepertiga lagi hukuman bagi saudagar ini.”
“Baiklah!” kata jin.
Syekh yang ketiga ini menceritakan kisahnya kepada Jin, “Tahukah kau bahwa bagal ini adalah istriku. Dia berselingkuh dengan seorang budak hitam. Dan ketika aku memergokinya, dia melemparkan segelas air yang telah dimantrai sehingga aku berubah menjadi seekor anjing. Aku berhasil melarikan diri ke sebuah toko daging. Anak pemiliknya melihatku dan mengubahku kembali ke bentuk asliku. Meski dia menyarankanku untuk membalas dendam pada istriku, tapi aku menolaknya, seperti kata para utusan Alloh: “Intan itu selalu bercahaya meski di tempat yang gelap, seperti kebaikan selalu terlihat oleh Dia yang Maha Melihat meski di tempat yang buruk sekalipun.”
Ketika syekh ketiga ini mengakhiri ceritanya, jin ifrit menganggukan kepalanya. Dia menyadari kesalahannya yang terbawa emosi. Dengan besar hati dia memaafkan si saudagar dan kemudian dia menghilang.
Saudagar tersebut mengucapkan terima kasih kepada ketiga syekh yang telah meyelamatkannya. Lalu mereka pun berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing.
——-
“Tapi tuanku,” kata Sheherazade. “Betapapun menariknya kisah-kisah yang sudah aku ceritakan, tidak lebih menarik dari cerita nelayan ini.”
Dinarzade, yang menyadari bahwa Sultan tidak memberikan jawaban, berkata, “Masih ada sedikit waktu lagi kak, tolong ceritakanlah padaku! Oh Sultan, saya mohon ijinkan hamba mendengar ceritanya.”
Sultan Shahriar mengijinkan, maka Sheherazade melanjutkan ceritanya…
——-
Wahai raja semua jin, ketahuilah bahwa aku dan kedua anjing ini adalah tiga bersaudara. Ketika ayah kami meninggal, dia mewariskan 3000 keping emas untuk kami bertiga.Dengan modal warisan itu, kami masing-masing membuka sebuah toko.IllustrationKakakku yang pertama memutuskan untuk pergi berdagang ke luar negeri.Maka ia pun menjual tokonya lalu membeli berbagai barang yang akan ia jual di berbagai negeri. Aku tidak pernah mendengar kabar darinya selama setahun. Suatu hari datang seorang pengemis di depan rumahku, “Assalamu’alikum,” sapaku.“Wa alaikum salam,” jawabnya. “Apakah kau tidak mengenaliku?” tanyanya.Aku memperhatikannya dengan seksama, dan kemudian aku menyadari bahwa pengemis di hadapanku adalah kakak tertuaku.“Kakak,” seruku. Aku memeluknya dengan gembira. “Bagaimana aku bisa mengenalimu dengan keadaan seperti ini,” kataku. Aku segera menyuruhnya masuk, menanyakan kabarnya dan perkembangan bisnisnya.“Jangan tanyakan itu,” katanya, “Mengingat betapa buruk nasibku hingga menjadi seperti ini, hanya akan membuatku semakin sedih saja.”
Aku segera menutup tokoku, mengesampingkan semua urusanku, menyuruh kakakku mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian terbaikku. Kemudian mengajaknya makan sehingga wajahnya tidak lagi pucat dan tubuhnya kembali kuat. Aku kemudian mengeluarkan semua tabunganku dan menghitungnya. Ternyata kini keuntunganku sudah dua kali lipat dari modalku. Aku berikan separuh keuntunganku kepada kakakku, “Ini kak, pakailah untuk modal, dan lupakan kesedihanmu!”Kakakku sangat gembira. Ia kembali membuka tokonya dan kami pun hidup bersama seperti dulu lagi.
Beberapa waktu kemudian, saudaraku yang lain juga bermaksud untuk pergi berdagang ke luar negri. Aku dan kakak tertuaku berusaha sebisa mungkin mencegahnya, tapi sepertinya kakak keduaku sudah bulat tekadnya. Maka ia pun menjual tokonya, dan dari hasil penjualannya, ia membeli berbagai barang yang akan ia jual di negeri yang disinggahinya. Ia berangkat dengan menggunakan caravan. Namun setahun kemudian ia pun pulang dalam keadaan bangkrut. Aku lalu menghiburnya, dan karena keuntunganku sudah menjadi dua kali lipat, aku membaginya sma rata dan memberikannya pada kakak keduaku. Dia membuka tokonya kembali dan kami pun hidup bersama seperti dulu lagi.
Suatu hari kedua saudaraku datang dan mendesakku untuk pergi bersama mereka, berdagang ke luar negeri, namun aku menolak. “Kalian sudah pernah melakukannya, tapi apa yang kalian dapatkan dari perjalanan kalian? Siapa yang bisa menjamin bahwa kali ini kita akan beruntung?” kataku. Kedua kakakku terus saja mendesakku, hingga akhirnya setelah lima tahun berdebat, aku setuju untuk pergi berdagang ke luar negeri.
Kedua saudaraku telah menghabiskan uang yang aku berikan pada mereka, tapi aku tidak mau mengungkitnya. Tapi dalam waktu enam tahun itu aku telah mengumpulkan keuntungan sebesar 6000 keping emas. Lalu kataku pada mereka: “Kita hanya boleh meresikokan sebagian dari keuntungan ini, yaitu 3000 keping emas yang akan aku berikan kepada kalian masing-masing 1000 keping emas.Dan kita akan mengubur sisanya di tempat yang aman, untuk berjaga-jaga jika kita tidak beruntung.”
Kami segera membeli barang-barang dagangan masing-masing yang akan kita jual nantinya. Beberapa hari kemudian dengan menyewa sebuah kapal, kami bertiga memuat barang dagangan kami dan mulai berlayar. Setelah perjalanan panjang akhirnya kami tiba di sebuah negeri. Disana kami menjual barang dagangan kami dan memperoleh untung besar. Aku sendiri, memperoleh keuntungan 10 kali lipat. Kami lalu membeli barang-barang bagus di negeri itu untuk kami jual lagi di negeri kami.
Lalu saat memutuskan untuk pulang, secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang gadis yang meski pakaiannya sangat sederhana tapi terlihat sangat cantik. Dia menghampiriku dan mencium tanganku, memohon padaku untuk mengajaknya serta dan menjadikannya istriku. Aku kesulitan untuk meolaknya. Tapi setelah ia meyakinkanku bahwa aku akan senang dengan kehadirannya. Maka aku mendandaninya dan menjadikannya istriku. Aku membuatkan kamar khusus untuknya di kapal, dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Selama perjalanan aku melihat bahwa istriku memiliki banyak keistimewaan, yang membuatku semakin mencintainya setiap hari. Kedua kakakku yang tidak memperoleh keuntungan sebesar aku, merasa iri dengan semua yang aku peroleh. Bahkan mereka berencana untuk membunuhku. Suatu malam saat aku dan istriku sedang tidur, mereka melemparkan aku dan istriku ke tengah laut.
Istriku, ternyata adalah jin yang memiliki kekuatan sihir. Dia menyelamatkanku dari amukan ombak dan membawaku terbang ke sebuah pulau. Esoknya dia berkata padaku, ‘Aku adalah istrimu yang atas ijin Alloh telah menyelamatkamu dari kematian. Meski aku ini jin, tapi aku benar-benar mencintaimu karena Alloh. Kaulah satu-satunya pria yang memperlakukanku dengan baik meski aku berpenampilan buruk. Tapi aku tidak menyukai kedua saudaramu yang telah mengkhianatimu. Mereka pantas dibunuh.’
Aku mendengarkan kisahnya dengan takjub dan berterima kasih atas pertolongannya.“Tetapi istriku, aku mohon maafkanlah saudaraku!” kataku. Lalu aku ceritakan padanya apa yang pernah aku lakukan pada kedua kakakku, tapi hal itu semakin membuatnya marah.“Aku harus segera menghukum manusia-manusia jahat ini. Akan kurusak kapalnya, dan kutenggelamkan mereka ke dasar lau!” teriaknya.“Jangan,” pintaku. “Aku mohon, mereka masih saudaraku, dan bukankah membalas kejahatan dengan kejahatan berarti kita juga termasuk orang yang jahat?”
Rupanya kata-kataku mengena di hatinya.Akhirnya dia mengangkatku, dan dalam sekejap aku telah tiba di depan rumahku. Aku memutuskan untuk menggali harta karunku, lalu kembali membuka toko kelontongku. Para tetanggaku mengucapkan suka citanya karena aku telah tiba dengan selamat.
Malam berikutnya ketika aku membuka pintu rumahku, aku melihat dua ekor anjing hitam ini. Mereka berlari ke arahku, melolong, membuat hatiku iba. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai istriku berkata: ‘Suamiku kedua anjing itu adalah saudaramu.’Aku merasakan darahku menjadi dingin. ‘Siapa yang telah membuatnya menjadi seperti ini?’ tanyaku.’Seharusnya aku. Tapi aku menyuruh saudaraku untuk menyihirnya. Dia juga menenggelamkan kapalnya. Tapi aku membiarkan mereka berdua hidup. Mereka akan tetap menjadi anjing selama 10 tahun, sebagai hukuman atas perbuatannya’ katanya. Dan setelah ia memberitahukan kemana aku harus mencarinya, ia pun menghilang.
Sekarang sudah sepuluh tahun kami menunggu, dan kini aku sedang dalam perjalanan menuju tempat saudara istriku. Aku ingin agar dia mengembalikan kedua saudaraku ke wujud aslinya. Dan dalam perjalananku itulah aku bertemu dengan saudagar, dan pria yang membawa rusa ini. Nah raja semua jin, Jika menurutmu ceritaku lebih menarik daripada cerita saudagar dan rusa ini, maka kurangilah sepertiga hukumannya,” kata syekh kedua mengakhiri ceritanya.”Ya, cerita yang sangat menarik,” kata jin Ifrit. Maka dia pun mengurangi sepertiga hukumannya.
Kini syekh yang ketiga berkata kepada jin, “aku juga memiliki cerita untukmu, dan jika ceritaku juga lebih menarik daripada cerita mereka, kau harus berjanji untuk mengurangi sepertiga lagi hukuman bagi saudagar ini.””Baiklah!” kata jin.
Syekh yang ketiga ini menceritakan kisahnya kepada Jin, “Tahukah kau bahwa bagal ini adalah istriku. Dia berselingkuh dengan seorang budak hitam. Dan ketika aku memergokinya, dia melemparkan segelas air yang telah dimantrai sehingga aku berubah menjadi seekor anjing. Aku berhasil melarikan diri ke sebuah toko daging. Anak pemiliknya melihatku dan mengubahku kembali ke bentuk asliku. Meski dia menyarankanku untuk membalas dendam pada istriku, tapi aku menolaknya, seperti kata para utusan Alloh: “Intan itu selalu bercahaya meski di tempat yang gelap, seperti kebaikan selalu terlihat oleh Dia yang Maha Melihat meski di tempat yang buruk sekalipun.”
Ketika syekh ketiga ini mengakhiri ceritanya, jin ifrit menganggukan kepalanya. Dia menyadari kesalahannya yang terbawa emosi. Dengan besar hati dia memaafkan si saudagar dan kemudian dia menghilang.
Saudagar tersebut mengucapkan terima kasih kepada ketiga syekh yang telah meyelamatkannya. Lalu mereka pun berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing.
——-“Tapi tuanku,” kata Sheherazade. “Betapapun menariknya kisah-kisah yang sudah aku ceritakan, tidak lebih menarik dari cerita nelayan ini.”Dinarzade, yang menyadari bahwa Sultan tidak memberikan jawaban, berkata, “Masih ada sedikit waktu lagi kak, tolong ceritakanlah padaku! Oh Sultan, saya mohon ijinkan hamba mendengar ceritanya.”Sultan Shahriar mengijinkan, maka Sheherazade melanjutkan ceritanya…
——-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s