1.1 Kisah Saudagar dan Jin Ifrit

Standard

“Tuan,” kata Sheherazade, ‘dahulu kala ada seorang saudagar yang sangat kaya raya. Dia memiliki tanah yang luas, harta yang berlimpah dan tentu saja uang yang banyak. Banyak sekali pekerja dan buruh yang menggantungkan hidupnya pada si saudagar. Suatu hari dia bermaksud untuk melakukan perjalanan perniagaan ke negeri yang jauh. Dia menaikan barang dagangannya ke punggung kudanya dan sebuah kantung besar yang ia bawa di punggungnya penuh berisi roti, madu dan kurma serta air untuk bekal perjalanannya. Maklumlah, ia harus melewati padang pasir yang tandus dimana tidak ada satu pun kehidupan di sana.

Singkatnya ia berhasil sampai di tujuan dengan selamat. Dan setelah menyelesaikan transaksi bisnisnya dan memperoleh untung besar, ia pun segera bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang.
IllustrationHari itu matahari bersinar terik. Saudagar memutuskan untuk berteduh di bawah pohon rindang sambil beristirahat. Dia membiarkan kudanya beristirahat dan merumput, sementara dia membuka bekalnya: roti dengan selai madu dan segenggam kurma. Setelah selesai memakan kurma, dia melemparkan bijinya ke sekumpulan batu-batu besar di sampingnya. Sebagai seorang muslim yang taat, dan karena waktu sudah menunjukan waktu Dzuhur, saudagar segera mengambil wudhu dan melakukan sholat. Dia masih sedang berdzikir ketika tiba-tiba “BUZZ”, di depannya muncullah Jin Ifrit yang bertubuh tinggi besar dengan mata merah karena marah dan membawa sebilah pedang yang terhunus.
“Hei manusia, bangkitlah! Aku akan mengambil nyawamu seperti kau telah mengambil nyawa anakku!” teriak jin Ifrit.
“Wahai Jin, bagaimana mungkin aku membunuh anakmu sedangkan aku tidak mengenalnya, dan tidak pernah melihatnya,” kata saudagar dengan ketakutan.
“Apa? Bukankah kau tadi yang melemparkan biji-biji kurma ke arah batu-batu itu?” tanya jin.
“Ya betul,” kata saudagar.
“Aku kasih tahu padamu, bahwa sala satu darinya telah mengenai mata anakku. Anakku yang malang, dia mati seketika,” seru jin marah.
Saudagar tersebut demi mendengar keterangan jin Ifrit bersumpah dengan nama Alloh yang menciptakan dan tempat semua makhluk kembali bahwa jika dia memang membunuh anak Jin tersebut, maka itu pasti tidak sengaja. Untuk itu dia memohon kemurahan hati Jin untuk memaafkannya.
“Perbuatanmu tidak bisa dimaafkan!” kata jin Ifrit. Dia lalu menyeret saudagar tersebut, membantingnya ke tanah dan bersiap menebasan pedangnya ke leher saudagar. ‘
——————
Saat itu Sheherazade menyadari bahwa pagi telah datang dan bahwa sudah tiba waktunya bagi Sultan untuk bangun.
“Oh kakak, sungguh cerita yang sangat menarik!” kata Dinarzade.
“Dan akhir ceritanya lebih menarik lagi dan lebih mencengangkan. Aku akan menceritakan sisanya nanti malam jika saja Sultan mengijinkanku hidup satu hari lagi,” kata Sheherazade.
Sultan Shahriar yang turut mendengarkan cerita Sheherazade dengan seksama, juga merasa penasaran dengan akhir kisah tersebut, maka ia memberikan ijin dan menunda kematian Sheherazade. Sultan pun bangkit dari tempat tidurnya, melaksanakan Sholat subuh lalu bersiap-siap menuju majelisnya.
.
***********

Wezir Agung yang semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan nasib putrinya, menunggu kedatangan Sultan dengan badan gemetar. Betapa leganya sang Wezir, ketika Sultan tiba dan tak sedikit pun menyinggung hal mengenai putrinya.

Sultan menghabiskan hari itu seperti biasa, menjalankan roda pemerintahan. Dan ketika malam tiba, ia kembali ke kamar untuk beristirahat bersama Sheherazade.

Seperti malam sebelumnya, Dinarzade membangunkan kakaknya satu jam sebelum pagi tiba dan memintanya untuk melanjutkan kisahnya. Sultan yang juga sudah tidak sabar menunggu akhir kisahnya, menyuruhnya segera bercerita. Maka Sheherazade pun meneruskan kisahnya.

“Tuanku, ketika menyadari bahwa dirinya akan dibunuh, saudagar itu menangis pilu dan berkata pada jin bahwa dia percaya pada takdir Alloh dan jika ini memang sudah digariskan maka dia tidak akan mampu menolaknya.

“Atas ijin Alloh, aku meminta kau memberiku sedikit waktu untuk menyelesaikan urusanku,” kata saudagar. “Aku memiliki utang yang harus dibayar. Aku juga memiliki harta, anak dan istri, juga beberapa karyawan yang menjadi tanggunganku. Ijinkanlah aku pulang ke rumahku dan menyelesaikan semuanya. Jika semua sudah selesai, aku berjanji atas nama Alloh, aku akan kembali kesini dan kau boleh membunuhku.”

“Bagaimana kalau kau mengingkari janjimu?” tanya Jin.

“Aku bersumpah dengan nama Alloh yang menciptakan aku dan kamu, aku tidak akan mengingkari janjiku,” kata Saudagar.

“Baiklah! Berapa lama waktu yang kau butuhkan?” tanya Jin.

“Tidak lebih dari 12 bulan. Awal tahun depan aku akan kembali ke sini dan menyerahkan nyawaku,” kata Saudagar.

Akhirnya Jin Ifrit mengabulkan permintaan saudagar dan menghilang dari pandangan.
Saudagar, setelah sembuh dari rasa takutnya, segera menaiki kudanya dan kembali meneruskan perjalanan pulangnya. Setibanya di rumah, istri dan anak-anak Saudagar menyambutnya dengan suka cita. Tapi bukannya membalas pelukan hangat mereka, Saudagar malah menangis pilu. Istrinya dengan khawatir menanyakan apa yang telah membuatnya begitu sedih.
“Bagaimana aku tidak sedih. Aku hanya akan hidup setahun lagi,” katanya.
Dia lalu menceritakan kejadian yang menimpanya di perjalanan. Mendengar hal itu, keluarganya sangat bersedih, namun saudagar itu meyakinkan keluarganya bahwa itu adalah kehendak Alloh yang tidak bisa dihindari.
Esoknya Saudagar segera membereskan semua utangnya. Ia memberikan hadiah-hadiah untuk semua temannya, memerdekakan banyak sekali budak-budaknya, membagi warisan untuk istri, anak-anak dan keluarganya, mencarikan wali untuk anak-anaknya yang masih kecil, dan mempercayakan semua propertinya kepada istrinya.
Setahun berlalu dengan cepat, kini tiba saatnya Saudagar untuk berpamitan kepada anak dan istrinya. Dibawanya sehelai kain kafan untuk membungkus mayatnya. Mereka tidak dapat menahan kesedihan dan tidak rela melepas kepergian Saudagar. Mereka memaksa untuk ikut pergi dan mati bersama-sama, Namun sang Saudagar berkata kepada anak-anaknya, “Anak-anakku, aku pergi untuk menepati janjiku kepada Alloh, banggalah dan tabahlah! Ingatlah bahwa mati adalah takdir bagi semua makhluk yang bernyawa!”
Setelah berkata demikian, Saudagar mengucapkan salam dan pergi meninggalkan mereka.

Akhirnya saudagar tersebut tiba di tempat yang telah ia janjikan. Dia menanti kedatangan Jin Ifrit di bawah pohon tempat dia dulu berteduh dan menunggu kedatangan jin Ifrit dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan.

Saat ia menunggu, tiba-tiba datang seorang syekh yang membawa seekor rusa menghampirinya. Syekh tersebut mengucapkan salam dan mendoakannya semoga berumur panjang (Ini adalah arti dari Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh :red), lalu bertanya apa yang sedang dilakukan saudagar tersebut di tempat yang merupakan sarang jin. Saudagar itu berkata bahwa dia memang sedang menunggu jin yang akan membunuhnya lalu menceritakan kejadian yang telah menimpanya.

Syekh tersebut sangat kagum mendengarnya, “Demi Alloh wahai saudaraku, aku sangat kagum dengan keteguhan janjimu. Aku akan duduk di sampingmu dan tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku melihat apa yang akan dilakukan jin itu kepadamu,”

Tidak berapa lama, datanglah lagi seorang syekh yang membawa 2 ekor anjing hitam di tangannya. Setelah mengucapkan salam dan mendengar cerita mengenai si saudagar, syekh yang kedua ini pun memutuskan untuk ikut menunggu bersama mereka berdua.
Demikian pula ketika datang syekh ketiga yang membawa seekor kuda. Dia pun memutuskan utuk ikut menunggu kedatangan jin ifrit.

Akhirnya ketika matahari sudah menciptakan bayangan panjang, datanglah jin ifrit dengan matanya yang menyala dan pedang terhunus.
“Serahkan nyawamu! Hari ini aku akan membunuhmu seperti kau membunuh anakku!” seru jin sambil menyeret saudagar hingga jatuh di tanah. Saudagar tersebut menangis dengan sangat memilukan hingga ketiga syekh pun turut merasakan kepedihannya.
Syekh yang pertama menjatuhkan badannya di hadapan ifrit dan berkata: “Wahai raja dari semua jin, dengan segala kerendahan hati, kumohon bersabarlah sebentar dan dengarkanlah kisahku dengan rusa yang kubawa ini. Jika kau merasa ceritaku lebih menarik dari kisah saudagar yang hendak kau ambil nyawanya, maka ringankanlah sepertiga dari hukumannya!” Setelah berdiam diri sejenak, akhirnya jin itu menjawab, “Baiklah!”
Maka Syekh yang pertama itu menceritakan kisahnya….

************

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s