Kisah 1001 Malam (Pendahuluan)

Standard

Sultan Shahriar dan Sumpahnya

Dahulu kerajaan Persia meliputi wilayah yang sangat luas hingga ke daratan India dan Cina. Saat raja mangkat, pangeran Shahriar sebagai anak sulung menggantikannya sedangkan adiknya pangeran Shahzenan menjadi raja Samarcande, salah satu wilayah di monarki Persia.

Setelah berpisah selama sepuluh tahun, Sultan Shahriar merasa rindu untuk bertemu dengan adik satu-satunya itu. Dikirimlah Wezirnya (Semacam penasihat kerajaan atau perdana menteri) untuk mengundang dan menjemputnya.

Singkatnya rombongan Wezir agung tiba di Samarcande dan disambut dengan suka cita oleh raja Shahzenan. Wezir Agung menyampaikan pesan dari Sultan Shariar kepada raja Shahzenan dan jawabnya,

“Wezir agung, aku merasa terhormat dengan undangan ini. Sesungguhnya, akupun sangat merindukan kakakku jadi tentu saja aku menerima undangannya. Tapi aku meminta waktu 10 hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dan sementara itu, anda dan rombongan akan kami jamu dengan baik.”
Wezir agung mengucapkan terima kasih dan memohon diri. Ia dan rombongannya mendirikan tenda-tenda di sebuah lapangan di luar kota kerajaan untuk tempat mereka tinggal selama menunggu.

Pada hari yang kesepuluh, sorenya, raja Shazenan berpamitan kepada permaisuri yang sangat dicintainya. Lalu ia dan rombongannya berangkat menuju perkemahan Wezir agung. Mereka akan berangkat esok paginya. Raja Shahzenan memanfaatkan malam terakhir sebelum keberangkatannya untuk bediskusi dengan para pejabatnya hingga larut malam.

Tengah malam saat raja hendak beristirahat, tiba-tiba ia merasa rindu kepada permaisurinya. Maka tanpa pikir panjang, raja segera memacu kudanya kembali ke istana dan langsung menuju ke kamarnya. Ia bermaksud memberikan kejutan manis untuk permaisurinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa di dalam kamar, permaisurinya sedang bersama dengan seorang budak laki-laki. Raja pun murka dan menikam keduanya hingga mati. Lalu ia meninggalkan mereka dan segera kembali ke perkemahan Wezir agung.

Sultan Shahriar dan para keluarga kerajaan serta para pejabatnya menyambut kedatangan raja Shahzenan dengan suka cita. Mereka pun saling melepas rindu. Kemudian raja mengantar adiknya ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.

Teringat akan ketidaksetiaan permaisurinya, membuat raja Shazenan menjadi murung. Hal ini juga disadari oleh Sultan meski ia tidak tahu persoalan apa yang membuat adiknya bermuram durja.

Suatu hari Sultan bermaksud untuk mengadakan perburuan besar di hutan selama 2 hari. Tapi, raja Shahzenan, karena merasa tidak enak badan tidak mau ikut. Ia tetap tinggal di kamarnya dan hanya duduk diam di atas balkon memandang taman istana di bawahnya sambil merenungi nasib buruk yang menimpanya.

Tiba-tiba sebuah pintu rahasia menuju taman bunga terbuka, dan keluarlah dari dalamnya 20 orang wanita yang mengenakan jubah dan cadar. Di tengah-tengah mereka berjalanlah sang Ratu. Setelah pintu menutup kembali, sepuluh dari keduapuluh wanita itu menanggalkan jubah dan membuka cadarnya. Raja Shahzenan terkejut karena ternyata 10 orang itu adalah budak pria berkulit hitam. Budak-budak ini langsung menhampiri kesepuluh budak wanita tadi dan berzina. Lalu ratu menepuk tangannya dan berseru, “Mas’ud, Mas’ud!” Dan entah darimana datangnya, seorang budak hitam berlari menghampiri ratu. Seperti halnya budak yang lain, ratu dan budak hitam itu pun melakukan tindakan bejat tanpa malu-malu.

Raja Shazenan terkesiap dan berkata dalam hati, “Alangkah bodohnya aku yang mengira bahwa hanya aku satu-satunya yang bernasib buruk.”
Sejak saat itu raja Shahzenan tidak lagi merasa sedih. Ia makan dan minum dengan lahap dan melakukan aktifitasnya dengan gembira.
Sultan juga ikut senang melihat perubahan mood adiknya, “adikku sayang, ketika kau datang ke istana ini, kau datang dengan muka yang keruh tapi kini, syukur pada Alloh, wajahmu sudah kembali bersinar, tolong ceritakan padaku apakah yang telah menimpamu?”
“Kakanda raja, jika boleh, saya mohon agar saya tidak usah menjawab pertanyaan kanda,” kata raja Shahzenan.
“Tidak adikku, kau harus menjawabnya,” desak Sultan.
Akhirnya raja Shahzenan menceritakan perselingkuhan permaisurinya kepada Sultan. “Itulah yang membuatku sedih. Aku selalu menyalahkan diriku atas kebodohanku,” katanya.
“Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan,” kata Sultan. “Sekarang ceritakan padaku apa yang telah membuatmu kembali gembira, jangan sembunyikan apapun dariku!”
Raja Shahzenan menceritakan apa yang dilakukan ratu saat Sultan pergi berburu.
“Aku harus membuktikannya sendiri,” kata Sultan.
“Kakanda sebaiknya mengatur sebuah perburuan lagi, lalu diam-diam kita kembali ke istana dan membuktikan ceritaku,” kata raja Shahzenan.

Esoknya keduanya melaksanakan niatnya. Mereka pamit untuk pergi berburu selama beberapa hari. Namun malamnya saat anggota rombongannya sudah terlelap di tendanya masing-masing, mereka berdua diam-diam kembali ke istana. Benar apa yang dikatakan adiknya, paginya Sultan melihat sebuah pintu rahasia menuju taman terbuka. Dari dalamnya keluarlah ratu beserta para budaknya. Ratu kembali memanggil Mas’ud dan Sultan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa aib yang dilakukan oleh Ratunya.
“Ya Alloh! Sungguh perempuan yang hina!” teriaknya.
Sultan segera memerintahkan untuk menangkap ratu dan dengan tangannya sendiri Sultan memenggal kepala sang Ratu. Sejak hari itu raja bersumpah akan menikahi seorang gadis setiap hari dan memenggalnya keesokan harinya.

Sumpah yang diucapkan Sultan menjadi teror yang menakutkan bagi rakyatnya terutama mereka yang memiliki anak perempuan. Raja yang dulu mereka cintai kini menjadi monster yang mengerikan. Tidak heran jika negeri yang dulu aman dan damai kini dipenuhi dengan pemberontakan-pemberontakan.

——-

Sheherazade

Dmitri Gruzdyev and Elena Glurdjidze in ScheherazadeWezir Agung yang diberi kekuasaan untuk mengeksekusi setiap gadis yang dinikahi Sultan, memiliki dua anak gadis. Yang pertama bernama Sheherazade dan yang kedua bernama Dinarzade. Dinarzade tumbuh sebagai gadis bangsawan yang lemah lembut. Sementara Sheherazade adalah kebalikannya. Ia adalah gadis yang pemberani, jenaka dan luar biasa pintar. Ia mempelajari banyak hal, dan tidak pernah lupa apa yang pernah dibacanya meskipun ia baru membacanya satu kali saja. Dia menguasai ilmu filsafat, fisika, sejarah dan seni-seni modern. Ia bahkan menciptakan puisi-puisi yang mengalahkan karya-karya pujangga terbaik di jamannya. Sealin itu dia dianugrahi kecantikan yang luar biasa dan juga kebaikan hati yang istimewa. Ayahnya, sang Wezir Agung, demikian mencintainya. Baginya ia adalah permata hatinya dan kebanggaannya.

Suatu hari saat sang Wezir dan Sheherazade bercengkrama, Sheherazade berkata, “Ayah, saya ingin memohon sesuatu dan saya harap ayah akan mengabulkannya.”
“Tentu saja nak, aku akan mengabulkannya selama aku sanggup dan permintaanmu masuk akal,” kata Wezir.
“Ayahku sayang, saya memiliki sebuah rencana untuk menghentikan kekejamanSultan,” katanya.
“Sebuah rencana anakku? Wah sungguh mengagumkan! Seperti apa rencanamu?” tanya Wezir.
“Ayah,” katanya hati-hati, “saya ingin ayah mengijinkanku untuk menikah dengan Sultan.”
“Apa?” seru sang Wezir terkejut, “apa kau sudah gila anakku? Apa kau sadar bahwa dengan menikahi Sultan kau sedang menyerahkan lehermu untuknya?”
“Ayah sayang, saya sadar dengan apa yang kukatakan. Dan saya tidak takut. Seandainya aku gagal, setidaknya aku akan mati dengan bangga, tapi jika aku berhasil oh ayah, bukankah juga akan membawa kedamaian bagi kerajaan ini,” katanya.
“Tidak, tidak,” teriak sang Wezir. “Apapun alasanmu, ayah tidak akan menyerahkanmu pada Sultan. Tidak terpikirkankah olehmu, saat Sultan menyuruhku untuk memenggalmu dan aku harus mematuhinya? Oh, betapa mengerikan!”
“Satu kali ini saja ayah, kabulkan permintaanku!” desak Sheherazade.
“Oh dasar keras kepala,” kata sang Wezir, “membuatku marah saja. Kenapa kau ingin menghancurkan hidupmu sendiri? Sungguh ayah tidak ingin kamu seperti si keledai yang beruntung, tapi akhirnya menjadi sial.”
“Apa yang terjadi dengan si keledai?” tanya Sheherazade.
“Akan kuceritakan,” kata Wezir. “Dan ceritanya adalah sebagai berikut….”

——-

Seorang saudagar yang sangat kaya raya dianugerahi oleh Alloh kemampuan untuk bisa mengerti bahasa binatang. Tapi dia tidak boleh menceritakan kembali apa yang didengarnya kepada orang lain, atau dia akan mati jika melanggarnya.

Dia memiliki seekor keledai dan seekor kerbau, yang ia tempatkan di kandang yang sama. Suatu hari saat saudagar sedang berada di kandang mereka, kerabu berkata kepada keledai, “Betapa beruntungnya dirimu yang tidak harus melakukan pekerjaan berat sepertiku! Tugasmu hanya mengantar majikan kita jika ia ingin pergi ke tempat-tempat yang dekat, dan jika ia tidak pergi, kau bisa bersantai sepanjang hari. Sedangkan aku! Aku harus bangun pagi-pagi sekali, pergi ke ladang untuk membajak tanah sepanjang hari dan para pekerja terus mencambukiku. Saat aku kembali ke kandang dengan rasa lelah dan kelaparan, mereka hanya memberiku gabah kering yang tidak enak juga jerami kering yang gatal untuk alas tidurku. Itulah alasanku kenapa aku mencemburuimu.”

“Tidak heran orang memanggilmu monster yang bodoh!” jawab keledai. “Kenapa kamu mau melakukan hal itu? Sebenarnya kamu bisa saja menjadi seperti aku, jika saja kau memiliki keberanian sebesar kekuatan tubuhmu. Kenapa saat mereka hendak membawamu, kau tidak menyeruduknya dengan tandukmu? Kalau mereka memberimu gabah dan jerami yang tidak enak, jangan memakannya. Kalau kau lakukan apa yang kunasihatkan, hidupmu pasti akan seberuntung aku.” Kerbau sangat berterima kasih atas nasihat si keledai, dan berjanji akan melakukannya.

Esoknya seperti biasa seorang pekerja membawa si kerbau ke ladang. Hari itu kerbau bertingkah tidak seperti biasanya. Ia sangat susah dikendalikan sehingga para pekerja sudah membawanya pulang sebelum sore. Dan esoknya lagi, pekerja itu melihat bahwa makanan si kerbau masih utuh. Si kerbau sendiri tergeletak di tanah dengan kedua kakinya terentang di atas tubuhnya. Pekerja itu mengira si kerbau sakit dan segera melaporkannya kepada majikannya.

Mendengar laporan itu, saudagar hanya tersenyum dan memerintahkan pekerjanya untuk membawa si keledai ke ladang untuk menggantikan tugas si kerbau. Kasihan sekali si keledai, dia terpaksa membajak tanah yang keras dan menarik bajak yang berat sepanjang hari. Belum lagi suara pecut yang mengiringi langkahnya menulikan telinganya.

Sementara itu kerbau menikmati harinya dengan bersantai. Dia melahap habis semua makanan yang ada di kandang sambil berleha-leha. Ketika keledai tiba di kandang dengan peluh bercucuran, kerbau menceritakan bahwa rencananya berhasil dan betapa ia menikmati hari santainya. Keledai tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat marah karena nasihat yang diberikannya kepada kerbau malah mencelakakan dirinya.
“Alangkah sialnya aku. Kata-kataku ternyata malah mencelakakanku. Aku harus menemukan cara membebaskan diriku dari kesialan ini,” pikir keledai.
Tapi karena begitu lelah setelah bekerja keras, keledai jatuh tertidur sebelum sempat berpikir.

Saudagar sangat ingin tahu apa yang akan dilakukan keledai terhadap kerbau setelah selama beberapa hari menggantikan posisi kerbau. Maka ia dengan ditemani istrinya sengaja datang ke kandang untuk mendengar percakapan mereka.

He had the gift of understanding the language of beasts.
Lalu didengarnya keledai berkata kepada kerbau, “Teman, apa yang akan kau lakukan besok saat pekerja akan membawamu ke ladang?”
“Tentu saja aku akan tetap melakukan nasihatmu,” kata kerbau.
“Hati-hati! Kau bisa celaka,” kata keledai. ”Tadi aku mendengar pekerja berkata, karena kau sudah lama sakit dan tidak bisa bekerja, maka mereka bermaksud untuk membunuhmu dan menjual dagingmu. Begitu kata mereka. Demi kebaikanmu teman, besok saat pekerja itu memberimu makan, bangkitlah dan makanlah dengan lahap. Dengan begitu mereka akan mengira kau sudah sembuh, dan akan membatalkan niatnya untuk membunuhmu. Lakukan apa yang kukatakan, maka kau akan selamat. Tapi jika tidak, kau pasti akan mati!”

Saudagar tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan keledai, membuat istrinya keheranan, “Suamiku, apa yang membuatmu tertawa seperti itu? Apakah kau menertawakanku?”
“Istriku, aku tertawa karena mendengar percakapan keledai dengan kerbau. Tapi aku tidak bisa menceritakannya, karena dengan begitu aku akan mati,” kata saudagar.
“Kalau kau tidak menceritakannya, aku tidak mau lagi hidup denganmu,” sahut istrinya marah.

Istri saudagar itu tidak mau makan dan minum dan hanya menangis sepanjang malam. Esoknya dia tetap memaksa suaminya untuk menceritakan apa yang didengarnya.
“Tapi kalau aku ceritakan, aku akan mati,” kata saudagar.
“Aku tidak peduli. Aku akan tidak akan mau makan dan minum sampai kau menceritakannya padaku,” katanya.
“Kamu memang keras kepala. Kamu akan mati jika terus seperti ini. Baiklah aku akan mema nggil anak-anak kita. Mungkin mereka ingin melihatmu sebelum kamu mati,” kata saudagar.

Ia lalu memanggil anak-anaknya, orang tua istrinya dan saudara-saudaranya. Saudagar menceritakan kejadian yang menyebabkan kemarahan istrinya. Kemudian mereka mencoba membujuk si istri, namun tidak berhasil. Akhirnya saudagar yang tidak tahan melihat penderitaan istrinya memutuskan untuk mengorbankan nyawanya sendiri.

Di kandang yang lain, saudagar memelihara 50 ekor ayam betina dan seekor ayam jantan dan juga seekor anjing yang menjaga mereka. Sementara saudagar termenung memikirkan apa yang harus diperbuatnya, ia melihat anjingnya lari menghampiri ayam jantan yang sedang merayu seekor ayam betina.
“Ayam, kamu sungguh binatang yang tak diri. Apa kamu tidak malu bersenang-senang sementara majikan kita sedang bersedih?”
“Memang apa yang terjadi?” tanya ayam jantan.
“Hari ini majikan kita sedang bingung. Istrinya memaksa dia untuk menceritakan sebuah rahasia, padahal ia tahu bahwa hal itu akan membunuh suaminya sendiri,” kata anjing.
“Ah, lemah sekali majikan kita!” kata ayam jantan. “Dia cuma memiliki satu istri tapi tidak bisa mendidiknya. Aku punya 50 ekor betina, dan mereka selalu menuruti kemauanku. Buatlah istrinya menurut, maka ia akn terhindar dari kesulitannya!”
“Apa yang seharusnya ia lakukan?” tanya anjing.
“Kunci ia di kamar lalu pukullah ia dengan kayu sampai ia minta ampun dan tidak berani lagi memaksanya menceritakan rahasianya,” jawab ayam jantan.

Saudagar segera mencari sebatang kayu, menghampiri istrinya yang masih menangis di kamarnya lalu memukulnya hingga istrinya berteriak minta ampun dan berjanji tidak akan memintanya membuka rahasianya.

“Anakku kamu layak untuk diperlakukan seperti istri si saudagar,” kata Wezir agung.
“Ayah,” kata Sheherazade. “Saya harap ayah tidak akan memukulku. Tapi saya akan tetap pada rencanaku. Saya mohon ijinkanlah aku ayah.”

Sang Wezir menyadari bahwa niat Sheherazade tidak bisa ditawar lagi. Maka dengan sedih dia menghadap Sultan dan menyampaikan bahwa esok malam ia akan mengantarkan putrinya untuk menjadi pengantin Sultan. Sultan terkejut mendengar perkataan Wezirnya, “Apakah aku tidak salah dengar? Kau hendak menyerahkan putrimu padaku?”
“Tuanku, ini adalah pemintaannya sendiri,” kata Wezir.
“Tapi kau tidak boleh lari dari tanggung jawab wahai Wezirku! Besok saat aku menyerahkan Sheherazade kepadamu, kau harus membunuhnya. Jika tidak, maka nyawamu yang akan jadi gantinya,” kata Sultan.

——-

Sheherazade mempersiapkan dirinya untuk menemui Sultan. Namun sebelum ia pergi, ia berbisik kepada adiknya Dinarzade, “Adikku sayang, aku ingin kau menolongku. Sesampainya aku di istana, aku akan meminta Sultan untuk mengijinkamu datang dan tidur di kamar pengantin, supaya aku bisa bersamamu untuk yang terakhir kalinya. Dan ingatlah untuk membangunkanku satu jam sebelum pagi datang dan memohon padaku, ‘Kakak bolehkah aku mendengarkan salah satu ceritamu sampai pagi datang, seperti yang biasa kau lakukan padaku setiap malam?’ Maka aku akan segera menceritakan satu kisah. Mudah-mudahan Sultan akan tertarik mendengarnya sehingga rencanaku mengembalikan kedamaian di negeri ini akan berhasil.”
Dinarzade berjanji akan memenuhi permintaan kakaknya.

Ketika malam datang, sang Wezir mengantarkan Sheherazade ke kamar Sultan dan meninggalkannya dengan hati yang hancur. Tinggallah kini Sheherazade bersama Sultan. Sultan membuka cadar yang menutupi wajah Sheherazade dan menemukan kecantikan yang paling luar biasa di baliknya. Sultan melihat setetes air mata jatuh dari mata Sheherazade.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Sultan.
“Tuan,” katanya. “Saya memiliki seorang adik yang sangat mencintaiku dan aku juga sangat menyayanginya. Bolehkah saya memohon padamu untuk mengijinkannya tinggal di kamar ini malam ini? Supaya aku merasakan kehadirannya dan dapat mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya.”

Sultan segera memerintahkan untuk mengundang Dinarzade dan memintanya untuk tidur di k amar pengantin. Sementara Sultan dan Sheherazade tidur di atas ranjang pengantin, Dinarzade tidur di sebuah kasur yang dipersiapkan untuknya di dekat ranjang pengantin.

Tepat satu jam sebelum pagi, Dinarzade terbangun. Lalu menghampiri kakaknya, membangunkannya dan memintanya menceritakan satu kisah seperti yang mereka rencanakan. Sheherazade meminta ijin kepada Sultan dan Sultan mengijinkan.
Mulailah Sheherazade bercerita….

——-

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s