3.2 THE STORY OF THE FIRST CALENDER, SON OF A KING

Standard

In order, madam, to explain how I came to lose my right eye, and to wear the dress of a Calender, you must first know that I am the son of a king. My father’s only brother reigned over the neighbouring country, and had two children, a daughter and a son, who were of the same age as myself.

As I grew up, and was allowed more liberty, I went every year to pay a visit to my uncle’s court, and usually stayed there about two months. In this way my cousin and I became very intimate, and were much attached to each other. The very last time I saw him he seemed more delighted to see me than ever, and gave a great feast in my honour. When we had finished eating, he said to me, “My cousin, you would never guess what I have been doing since your last visit to us! Directly after your departure I set a number of men to work on a building after my own design. It is now completed, and ready to be lived in. I should like to show it to you, but you must first swear two things: to be faithful to me, and to keep my secret.”

Read the rest of this entry

3.1 STORY OF THE THREE CALENDERS, SONS OF SULTANS; AND OF THE FIVE LADIES OF BAGDAD.

Standard

In the reign of the Caliph Haroun-al-Raschid, there lived at Bagdad a porter who, in spite of his humble calling, was an intelligent and sensible man. One morning he was sitting in his usual place with his basket before him, waiting to be hired, when a tall young lady, covered with a long muslin veil, came up to him and said, “Pick up your basket and follow me.” The porter, who was greatly pleased by her appearance and voice, jumped up at once, poised his basket on his head, and accompanied the lady, saying to himself as he went, “Oh, happy day! Oh, lucky meeting!”

Read the rest of this entry

2.6 Kisah Raja Muda dari Pulau Hitam

Standard

“Ayahku adalah raja negeri ini. Kerajaan Pulau Hitam, begitulah kami menyebutnya karena negeri kami terletak di antara empat gunung dan ibukotanya terletak di tempat danau itu berada sekarang. Aku akan ceritakan kenapa kota yang dulu megah dan ramai kini berubah menjadi sebuah danau. Read the rest of this entry

2.5 Sultan dan Ikan-ikan yang Misterius

Standard

Juru masak istana segera membersihkan ikan-ikan tersebut, lalu menaruhnya di atas wajan dan memberinya sedikit minyak. Namun ketika ia akan membalik ikan-ikan tersebut, tiba-tiba tembok di hadapannya terbelah. Seorang gadis cantik keluar dari dalamnya. Ia mengenakan jubah biru yang terbuat dari satin, dengan anting-anting di telinganya, kalung mutiara tergantung di lehernya yang jenjang, serta cincin bermata rubi di jarinya yang lentik. Tanpa mempedulikan sang juru masak yang terkejut dengan kejadian aneh itu, ia melangkah mendekati penggorengan. Dengan sebatan tongkat di tangannya, ia mengetuk pinggir wajan dan berkata, “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?” Read the rest of this entry

2.4 Kisah Patih yang Dihukum

Standard

Serial Kisah Seorang Nelayan dan Jin (Bagian 4)

Raja yang diceritakan tersebut memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Raja menugaskan seorang Patih untuk menemaninya kemanapun ia pergi.

Suatu hari pangeran dan Patih pergi berburu ke hutan dengan ditemani serombongan kecil pengawal. Tiba-tiba seekor binatang buas muncul di hadapan mereka.

Patih berseru kepada pangeran, “kejar binatang itu!”
Maka pangeran mengejar binatang itu hingga tanpa ia sadari, ia telah terpisah dari rombongannya.

Binatang itu lari semakin cepat dan menghilang di tengah sabana. Saat itu barulah pangeran menyadari bahwa ia telah tersesat. Di tengah kebingungannya mencari jalan pulang, pangeran melihat seorang gadis yang sedang menangis.

Read the rest of this entry

2.3 Kisah Seorang Suami dan Kakaktua

Standard

Seorang pria yang baik punya istri yang cantik, yang dikasihinya dengan amat sangat, dan tidak pernah meninggalkan barang sekejab. Suatu hari, ketika ia karena suatu urusan penting harus pergi jauh dari istrinya, ia pergi ke suatu tempat di mana segala jenis burung yang dijual dan membeli burung beo. Burung beo ini hanya berbicara dengan baik, tetapi dia memiliki karunia untuk memberitahukan segala yang terjadi di depannya. Dia ada di rumah dalam sangkar dan meminta istrinya untuk dimasukkan ke dalam kamarnya dan merawat besar sementara dia pergi. Kemudian ia pergi. Setelah kembali, ia bertanya pada burung kakaktua ini apa yang telah terjadi selama kepergiaannya, dan kakaktua menceritakan beberapa hal yang membuat dia memarahi istrinya.

Istrinya berpikir bahwa salah satu budak nya pasti bercerita tentang apa yang dilakukannya, tetapi mereka mengatakan bahwa yang bercerita adalah burung kakaktua, dan ia memutuskan untuk membalas dendam pada kakaktua itu.

Ketika suaminya berikutnya pergi selama satu hari, dia memerintahkan para budaknya untuk menjalankan di bawah sangkar burung, gilingan, dan lain untuk membuang air di atas sangkar dan yang lain mengambil cermin dan menaruhnya di depan matanya dari kiri ke kanan dalam cahaya lilin. Budak-budak melakukan ini untuk sebagian malam, dan melakukannya dengan sangat baik.

Keesokan harinya, ketika sang suami bertanya kakaktua kembali apa yang telah dilihatnya. Burung itu menjawab, “Tuan yang baik, kilat, guntur dan hujan mengganggu saya sepanjang malam, saya dapat memberitahu Anda apa yang saya derita.”

Suami, yang tahu bahwa itu tidak hujan dan guntur di malam hari, yakin bahwa burung kakaktua tidak berbicara kebenaran, sehingga ia membawanya keluar dari sangkar dan melemparkannya sangat kasar atas dasar bahwa ia membunuhnya. Tapi ia menyesal setelah itu, karena ia menemukan bahwa kakaktua berbicara kebenaran.

Ketika raja Yunani, “kata nelayan untuk para jenius, telah selesai kisah kakaktua itu,” katanya kepada wazir, “dan karenanya, wazir, aku akan mendengarkan bukan untuk Anda, dan aku akan mengurus dokter , dimana saya tidak mau berlaku sebagai suami lakukan ketika dia membunuh burung kakaktua itu “

Tapi si wazir berkeras.” Tuan, kematian burung beo itu bukan hal yang penting. Tapi ketika menyangkut kehidupan seorang raja lebih baik mengorbankan yang tak berdosa daripada menyelamatkan yang bersalah. Meskipun tidak pasti, namun Tabib Douban, saya yakin ingin membunuhmu. Naluri saya mendorong saya untuk menceritakan tentang kisah wazir yang dihukum.”

“Apa yang telah dilakukan oleh wazir, “kata raja,” sehingga pantas dihukum?”

“Aku akan menceritakan pada Yang Mulia, jika Anda sudi untuk mendengarkan, “jawab wazir.

2.2 Kisah Raja Yunani dan Tabib Duban

Standard

‘Dengarlah wahai Ifrit, dahulu kala di sebuah negeri benama Zouman di daratan Persia ada seorang raja bernama raja Yunani. Beliau sangat kaya raya dan terkenal dengan keberaniannya. Sayang dia menderita penyakit kusta yang tidak kunjung sembuh. Puluhan tabib telah dipanggilnya, namun tidak ada satu obat pun yang bisa menghilangkan kusta dari tubuhnya.

Suatu hari datanglah di negeri itu seorang Tabib bernama Duban. Dia sudah mendalami berbagai ilmu dari Yunani kuno sampai Yunani modern, dari Persia hingga syiria. Dia ahli dalam pengobatan maupun astrologi. Keahliannya membuat kagum tabib-tabib lainnya dan juga para ilmuwan.
Ketika Tabib Duban mendengar tentang penyakit yang diderita raja Yunani, dia bermaksud untuk mencoba mengobatinya. Maka dipelajarilah kembali berbagai buku untuk mencari obat yang paling manjur.

Esoknya dia menghadap raja Yunani. Setelah memberikan penghormatan, disampaikanlah maksud kedatangannya yaitu untuk mengobati penyakit kusta raja.
“Tuanku, saya dengar bahwa belum ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkan penyakit paduka. Jika paduka mengijinkan InsyaAlloh saya bisa menyembuhkannya tanpa obat ataupun salep!” katanya.
“Bagaimana caranya? Demi Alloh, jika kamu bisa menyembuhkanku, aku akan memberikan apapun yang kau mau Harta yang banyak untukmu dan anak cucumu, dan kamu akan kujadikan penasihat dan sahabat terbaikku” kata raja
“InsyaAlloh saya bisa menyembuhkan paduka. Besok saya akan mulai pengobatannya,” kata tabib Duban. Kemudian ia memohon diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Tabib Duban kemudian membuat sebuah stik golf yang diberi lubang di pegangannya. Di lubang itulah tabib Duban memasukan obat racikannya. Kemudian ia juga membuat sebuah bola sebagai pelengkapnya.

Keesokan harinya Tabib Duban kembali menghadap raja. Dia mengajak raja ke lapangan istana. Kemudian memberi raja stik golf buatannya dan sebuah bola. Dimintanya raja untuk memukul bola tersebut sambil menunggang kuda.
“Pukullah bolanya dengan sekuat tenaga. Saat badan paduka berkeringat, maka panas tubuh bafinda akan membuat obat yang ada di dalam stik golf ini ke seluruh tubuh paduka. Setelah itu paduka boleh kembali ke istana untuk mandi air hangat. Pastikan untuk menggosok tubuh paduka hingga bersih. Lalu istirahatlah. InsyaAlloh besok penyakit baginda akan sembuh,” katanya.
Raja Yunani lalu melakukan semua saran Tabib Duban.

Ketika raja terbangun keesokan paginya, dia melihat bahwa kulitnya telah halus. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah menderita kusta. Kulitnya putih bersih tanpa noda.
Raja sangat bersuka cita. Dia segera memerintahkan utusan untuk menjemput tabib Duban ke istana. Sambil berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya, raja memberikan berkantung-kantung emas, lusinan pakaian-pakaian mewah dan hadiah-hadiah lainnya. Sesuai janjinya raja juga mengangkat Tabib Duban menjadi penasihat pribadinya dan mendudukannya di samping singgasananya.

Di antara pejabat kerajaan, ada seorang Wezir yang menaruh benci terhadap tabib Duban. Dia cemburu dengan semua perhatian dan kebaikan raja terhadap Tabib Duban.
Suatu hari sang Wazir menghadap raja secara pribadi.
“Wahai paduka raja yang adil, hambamu ini ingin menyampaikan sebuah nasihat untuk paduka. Saya akan menjadi orang terkutuk jika tidak menyampaikannya pada paduka,” katanya.
Raja terkejut mendengarnya dan bertanya, “nasihat apa?”
“Oh paduka yang mulia. Para leluhur pernah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak bisa melihat tujuan, keberuntungan tidak akan datang padanya. Dan kini saya melihat raja sedang membuat kekeliruan. Sejak ia menganugerahi seorang musuh dengan kebaikan. Seorang musuh yang menginginkan kerajaan ini hancur. Dia menganugerahinya kebaikan, kekuasaan dan menjadikannya penasihatnya,” katanya.
“Siapakah teman yang kau maksud itu?” tanya raja.
“Paduka, tentu saja yang saya maksud adalah penasihat paduka, Tabib Duban!” kata wazir.
“Dia adalah teman terbaikku,” kata raja. “Dan dialah yang telah menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib lain. Karena dialah aku bisa menyingkirkan rasa malu yang dulu menderaku karena penyakitku. Aku tidak akan menemukan orang sehebat dia di seluruh negeri. Tapi kenapa kau menentangnya? Aku telah memerintahkan pegawaiku, untuk memberikannya gaji 1000 keping emas setiap bulannya, dan bahkan jika aku memberikan sebagian kerajaanku padanya, masih tidak akan cukup mewakili rasa terima kasihku.”
“Oh tuanku, bagaimana kau yakin bahwa dia tidak menipumu? Sesungguhnya aku mengatakan hal ini karena rasa baktiku padamu,” kata Wezir.
“Benarkah tidak ada maksud lain dari perkataanmu ini wahai Wezir? Aku takut kau melakukan ini karena rasa cemburu. Jika aku mengikuti nasihatmu, aku takut aku akan menyesal seperti seorang suami yang membunuh burung kakak tuanya. Aku akan menceritakan kisahnya padamu.” Kata raja.

Maka oh Ifrit, raja pun memulai ceritanya…

——-